Sulitnya ikhlas berkarya
Beberapa pekan belakangan ini, aku menempatkan prioritas kerja pada penyusunan naskah-naskah buku yang menurutku berpeluang best-seller seperti buku Istikharah Cinta. Aku berpikir keras, tema (dan topik-topik) apa lagi yang akan memikat para pembaca bukuku. Namun syukurlah, dini hari tadi aku diingatkan oleh seorang kontributorku di buku itu, Donny Reza namanya. Dalam menanggapi laporan penjualan buku tersebut, dia mengatakan:
Subhanallah, [lebih dari] 10000 copy [dalam enam bulan pertama]?! mudah-mudahan ketika menulisnya kita dalam keadaan ikhlas, dan mudah-mudahan bisa menjadi amal jariah yang pahalanya terus mengalir. Insya Allah.
Ikhlas… Kata ini mungkin sudah terlalu amat populer, sehingga malah cenderung terabaikan. Ah, aku jadi teringat pula pesan dari Pak Ersis di artikel “Ikhlas Menulis Riya Memotivasi“. Isinya antara lain:
Kini mari coba melakukan pergeseran, melakukan change agar perbuatan menjadi ikhlas. Tepatnya, mari berlatih ikhlas dalam perilaku dan tindakan. Setapak demi setapak.
Setuju! Terima kasih, Pak Ersis & Dik Donny. Aku menjadi tersadarkan bahwa yang mesti kuprioritaskan kini selaku mubalig dan penulis buku adalah yang membawa manfaat terbesar, entah menjadi best-seller entah tidak. Mungkin dengan jalan begini, aku akan tergolong orang yang ikhlas. (Amin.)



Amin. Selamat menyusun buku betseller, doa menyertainya.