Ketika setiap orang membanggakan pemikirannya
Abu Umayyah as-Sya’bani berkata, “Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah al-Khasyani, ‘Hai Abu Tsa’labah, bagaimanakah engkau memahami ayat ini, ‘… jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya… (al-Ma’idah, 105)?’ Abu Tsa’labah menjawab, ‘Demi Allah, engkau telah menanyakan hal ini kepada orang yang pernah diberitahu mengenai perkara ini. Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw, kemudian beliau Rasulullah menjawab, ‘Lakukan amar ma’ruf, dan cegahlah kemungkaran, sehingga apabila engkau melihat kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang dituruti, dan dunia yang diutamakan, dan setiap orang membanggakan pemikirannya, maka hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri, dan tinggalkan orang awam [yang keras kepala tak mau menerima dakwah], karena sesungguhnya di belakangmu masih ada hari-hari yang panjang. Kesabaran untuk menghadapi hal itu seperti orang-orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang melakukan amal kebaikan pada masa seperti ini akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan perbuatan seperti itu.’” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam al-Malahim (4341) dan Tirmidzi dalam al-Tafsir (3060) dan dia berkata: “Hadits ini hasan gharib.” Dan juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dalam al-Fitan (4014))
Terhadap hadits tersebut Syaikh Yusuf Qardhawi menerangkan:
Apa yang pernah diberitahukan oleh Rasulullah saw [itu] telah menjadi kenyataan. Orang-orang yang bekerja untuk agamanya, yang terus bersabar dalam pekerjaannya bagaikan orang yang hendak mati. Mereka menghadapi serangan dari dalam dan juga serangan dari luar. Semua kekuatan kafir bersatu padu menyerang dan memperdaya dirinya, walaupun berbeda-beda bentuknya, padahal Allah SWT sedang mengepung mereka dari belakang. Allah akan memberikan bantuan kepada orang-orang yang teguh dalam menghadapi tipu daya musuh yang hendak menghancurkan Islam. Allah akan mempersempit ruang gerak mereka, dan akan memporak-porandakan mereka, sehingga mereka sama sekali tidak menemukan jalan ke luar.
Diriwayatkan dari Ma’ qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Ibadah yang dilakukan pada waktu terjadinya fitnah (al-haraj), adalah sama dengan hijrah kepadaku.’ (Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Ibn Majah; lihat Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 3974)
Al-Haraj pada hadits ini berarti perselisihan pendapat dan fitnah…. (Dr. Yusuf Al Qardhawy, Fiqh Prioritas, (Jakarta: Robbani Press, 2005), hlm. 126)
Bagaimana menurut Anda?



Sungguh luar biasa Pak.
mengutip postingan teman di myQuran.org,
Kutip
ada yang menanyakan mana yang lebih kuat….
kita lihat aja bagaimana cara beristimbath dan beristidlal ustadz yang menganjurkan pacaran islami…..
atau gini aja kita lihat darimana pak ustadz mushodiq membolehkan pacaran yang islami..apakah bersama beliau ini ada para ulama mu’tabar yang menfatwakan sama dengan pak ustadz…
kita telusuri aja bagaimana fatwa2 para ulama mu’tabar tentang masalah interaksi antara laki2 dan wanita yang bukan muhrim..
bisa di telusuri di lajnah daimah, MUI, fatwa majelis tarjih muhammadiyah, fatwa lajnah bahaits ad diniyah NU, atau fatwa para ulama lainnya….
seandainya tidak ada yang sama dengan fatwanya pak mushodiq, …kalau semuanya bertentangan,,,shubhanallah tinggal kita menilai lebih kuat mana keilmuan pak mushodiq ini dengan para ulama dan syeikh itu… Senyum manis
suatu hadits, di jaman nabi kalau wanita keluar rumah aja diperintahkan menghindar dari laki2 sebisa mungkin….dikatakan sampai kainnya menempel di dinding….. Senyum manis..
lha kalo pacaran islami terus gimana…
Setiap orang cenderung bangga dengan pemikirannya dan mengabaikan pendapat orang lain, dan dalam Islam, apabila ada perbedaan pendapat maka hendaklah dikembalikan kepada Allah SWT dan Rasul-NYA, kepada AlQuran dan Sunnah.
Apabila persoalan itu masih tidak secara qath’i dan sarih kita dapati dalam AlQuran dan Sunnah, maka hendaklah mengambil pendapat dari para orang-orang yang mengambil dan mengkaji ilmu dari Allah swt dan Rasul-NYA.
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi (waratsatul anbiya’) . Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)
Jadi saya sepakat dengan penulis, bahwa tidak selayaknya kita berbangga-bangga dengan pemikiran diri sendiri, dan yang terbaik dalam memulai pemikiran adalah belajar kepada ulama yang merupakan waratsatul anbiya’ .
Wallahua’lam bishshawwab
@ Rafki RS
Terima kasih atas dukungannya.
@ penentang islamisasi pacaran
Aduh duh hari gini masih ada yang mengharamkan pacaran yang islami? Ada yang tak mau tahu mana yang lebih kuat antara dalil yang menghalalkan dan yang “mengharamkan” pacaran islami. Kita lihat aja bagaimana cara beristimbath dan beristidlal orang-orang yang mengharamkan pacaran islami. Atau gini aja, kita lihat dari mana mereka mengharamkan pacaran yang islami. Apakah bersama mereka ini ada para ulama mu’tabar yang menfatwakan sama dengan fatwa mereka?
Kita telusuri aja bagaimana fatwa2 para ulama mu’tabar tentang masalah “bercinta sebelum khitbah“. Ini bisa ditelusuri di lajnah daimah, MUI, fatwa majelis tarjih Muhammadiyah, fatwa lajnah bahaits ad diniyah NU, atau fatwa para ulama lainnya. Seandainya tidak ada yang sama dengan fatwanya mereka, apalagi kalau semuanya bertentangan,,, subhanallah, tinggal kita menilai lebih kuat mana keilmuan mereka ini dengan para ulama dan syeikh itu, seperti Ibnu Hazm, Ibnu Qayyim, dan Abu Syuqqah…
Di suatu hadits, di jaman nabi, ditunjukkan bagaimana Nabi menghargai sepasang kekasih yang saling ekspresikan cinta. Lha kalo yang mengharamkan pacaran islami malah menghujat dan memfitnah. Gimana tuh?
kalo dah bicara tentang agama langsung jadi menciut heheh
salam kenal..
Secara ga langsung, mungkin inilah bentuk doktrin yg tertanam di dalam pemahaman mereka
IMO, memegang sebuah pemahaman dgn teguh tidak lantas berarti doktrin, tapi ketika pemehaman itu dipegang dgn begitu kuat sampai2 pemahaman yg berbeda langsung dicap salah, dan tak jarang pula hinaan dan tuduhan dikeluarkan demi “mengamankan” pemahamannya
Akhirnya lahirlah apa yg mungkin org2 kenal extrimis/fanatis
Kalo masalah akidah, mungkin ga masalah, tapi ranah muamalah ini memang area multitafsir dan ijtihad
Apa yang dianggap kurang baik zaman dahulu, belom tentu sekarang ini juga kurang baik
Jadi apabila tafsir tidak melihat suatu keseluruhan aspek seperti sebab turunnya, sikon zaman, siapa objeknya, maka rentan terjadi kekeliruan pemahaman terhadap esensinya
wassalam
kadang saya sering bangga ama tulisan saya sendiri
Pencerahan demi menjaga diri. Makasih Pak.
Saya harus banyak belajar nih dari sini
Semoga saya tetap “tertunduk” meski tepuk tangan menumpk