Takdir Cinta (resensi buku Istikharah Cinta)
Di blog Muslim Romantis, telah saya kutipkan sebuah resensi di Riau Pos terhadap buku Istikharah Cinta. Di blog Manajemen Amal ini saya kutipkan resensi lain dari Nugrahani di http://nugrahani.blogs.friendster.com/my_blog/2008/02/takdir_cinta.html :
“Apakah nasib manusia itu telah tetap dan tak ada satu pun yang dapat mengubahnya?!?! (1) Ato justru manusia diberi kehendak bebas untuk mengubah takdirnya?!?!(2)”
Mempersoalkan nasib manusia, pasti yang kita ingat adalah takdir.. Suatu misteri di luar kemampuan manusia.. Kuasa Tuhan.. Mungkin kita gak perlu banyak berdebat tentang kutipan diatas, Gak penting buat kita untuk memilah segala perbuatan ke dalam golongan (1) ato (2). ===JUST DO IT=== karena hidup gak hanya berjalan dengan kita memikirkan ato memperdebatkannya, tapi bertindak juga perlu..
Hmm, sebagian argumen diatas kusadur dari buku ISTIKHARAH CINTA-nya M. Shodiq Mustika, dkk. Bagus banget isinya, ngebuat kita jadi berpandangan luas akan misteri Allah mengenai jodoh yang ditakdirkan bagi manusia.. Istikharah disini memang berhubungan langsung dengan takdir sebagai jawaban untuk kita.. Tujuan istikharah harus jelas, gak pake “pesan sponsor” di dalamnya, kita diminta untuk berserah, berpasrah dalam doa ; minta dipilihkan ‘pintu surga’ melalui cinta yang kita rasakan dalam hati.. Akhir istikharah justru jadi awal perjuangan baru untuk mencapai ‘pintu surga’ itu, karena masalah pasti akan selalu ada.. Tapi dengan perjuangan itulah, kita bisa ngerasain bahagia akan keindahan cintanya. Nah, hati2 dalam memilih yah, karena ini bukan pilkada ato pemilu, tapi TAKDIR!! Apa yang terbaik untuk kita hanya DIA yang Maha Tahu.. So, mau kita cinta mati sama sesuatu ato seseorang, kalo itu gak baik buat kita, yah pasti gak akan bahagia akhirnya.. Seorang teman yang telah bertemu dengan jodoh yang Allah pilihkan untuknya pernah menasihatiku seperti ini : “ Mau jalannya naik turun, mau belok kiri ato belok kanan, ato kamu cuma diam, kalo dia memang jodoh kamu pasti bersatu”
Takdir Allah SWT menyentuh segala sesuatu, gak terkecuali manusia. Namun keyakinan ini gak menghalangi kita untuk melipat lengan baju, berjuang, serta bersimbah keringat dan darah. Jika kalah, gak ada istilahnya takdir memang kejam. Gak bijaksana kalo yang merugikan aja kita sebut dengan takdir, karena hal positif pun merupakan bentuk takdir.
Dalam hidup, satu hal yang pasti dimiliki manusia : pilihan. Anugerah pilihan itu pun takdir. Bahkan saat manusia merasa ia gak punya pilihan lain, sebenarnya ia tetap punya pilihan untuk gak ngelakuinnya (perlu diingat juga bahwa semua pilihan itu ada konsekuensinya).
Pada dasarnya, kita gak tau mana yang terbaik untuk kita. Memang, kita mengetahui apa2 yang kita inginkan (itu jikalau kita sudah menetapkan hati dan punya bayangan pasti akan apa yang kita mau). Tapi kita gak tau apa dan bagaimana ujung jalan dari pilihan yang kita ambil kan?!?!
Mirip dengan judi, kita gak bisa memilih hasil dari langkah yang kita tempuh. Ada aturan mainnya; ada aturan probabilitas yang berlaku; ada pemain; ada faktor keberuntungan (bisa dikatakan seperti; kehendak Allah yang kita sukai bentuknya, jumlahnya, dan pilihan waktunya); ada penonton (orang2 lain yang mengenal kita, yang memberi komentar atas pilihan kita; baik berupa cibiran sinis maupun pelukan hangat); dan ada bandar ( yang sedia menyita apa yang kita pertaruhkan).
Gitu juga urusan memilih jodoh, apalagi kalo kita ditakdirkan untuk mencintai dan dicintai.. Bukan hal yang mudah untuk ini, karena banyak yang berpikir telah bertemu seseorang yang terbaik untuk hidupnya, justru merasa gak bahagia saat menjalaninya..
Just believe in Allah SWT.. Let’s pray for the best in our life



PEndapat manusia adalah relatif
Perkataan paling benar adalah kitabullah
Sebaik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah
Percuma bila suatu buku isinya “bagus” dengan kalimat2 yang menyihir pembaca, seolah-olah disandarkan kepada AlQuran dan Sunnah, namun dengan pemahaman penulis seorang. Padahal pemahaman paling aman adalah pemahaman sahabat.
Kalimat-kalimat jika miskin dalil dan penjelasan orang berilmu (agama) malah akan menyesatkan. Mungkin perasaan kita “merasa” apa yang kita baca adalah benar, namun ternyata… tidak benar.
Tuntutlah ilmu. Ilmu yang apa yang Allah firmankan, dan apa yang Nabi Sabdakan. Jauhilah penafsiran-penafsiran “seenak dewek”. JIka benar siapa yang tahu. Sedangkan jika salah maka akan menyesatkan.
WE NEVER KNOW.. UNTIL WE TRY….
ASSALAMU ALAIKUM…SEMOGA KEBERKAHAN MENGHIASI HIDUPMU IKHWAH…BUKU INI TELAH MEMBERI BANYAK MANFAAT UNTUK SAUDARA2MU