Sebaiknya Mengubah ataukah Memilih Takdir?

2008 Januari 23
by M Shodiq Mustika

Untunglah saya telah mengajak Pak Eby (erander) menulis buku AYO UBAH TAKDIR bersama saya. Alhamdulillah, beliau sudah menunjukkan diri sebagai “sparring partner” yang tangguh sejak pekan pertama. Tak tanggung-tanggung, ketika saya ajak merombak kerangka karangan, beliau memprotes judul yang saya tawarkan: AYO UBAH TAKDIR. Sebagai gantinya, beliau sarankan: AYO PILIH TAKDIR (atau KUJEMPUT TAKDIRKU).

Protes tersebut membawa saya pada pertanyaan: sebaiknya mengubah ataukah memilih takdir? Saya pikir, pertanyaan ini sangat menarik. Karena itu, tanggapan saya terhadap protes tersebut saya posting di sini supaya mendapat masukan dari para pembaca.

… takdir itu sendiri sudah ‘tercetak’ buat masing2 manusia, baik takdir baik maupun buruk.

Karena manusia mempunyai kehendak bebas, maka pilihan ada pada manusia itu sendiri. Jadi sebenarnya bukan mengubah takdir tapi memilih takdir dan seperti yang pernah saya tulis di blog saya .. bahasa memilih takdir itu menjadi KU JEMPUT TAKDIR KU .. artinya kita tidak mengubah tapi memilih.

Makanya .. ketika pak Shodiq menawarkan saya ikut nulis AYO UBAH TAKDIR, saya masih bingung. Karena takdir itu tidak bisa diubah .. itu menurut pemahaman saya. Yang bisa saya lakukan hanya memilih. Karena takdir sudah diprogram oleh Sang Pencipta Manusia.

Kita hanya perlu memilih takdir. Seperti software, apakah kita mau menggunakan Word Processor atau Excel .. sama2 bisa buat nulis tapi fungsi nya beda2. Gitu deh. Jadi koq, saya lebih sreg memilih dengan memilih takdir atau menjemput takdir.

Kira2 gitu pak .. mohon maaf, kalo cara berpikir saya aneh dan keliru. Karena sudah ada buku tentang MENGUBAH TAKDIR .. dan saya takut kualat pak kalau saya mengubah MADE IN ALLAH.

Cara pikir Pak Eby itu tidak aneh. Belum lama ini, saya juga menjumpai pemikiran semacam itu dalam artikel Pak Agor, “Yuk Kita Ubah Takdir?“, dan artikel Pak Ari, “Mengubah Takdir? (jilid 2)“. Malah, selama belasan tahun sejak remaja hingga berusia hampir 30 tahun, saya juga berpandangan begitu.

Namun pandangan saya agak berubah ketika saya menjadi dosen di FAI UMY (Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Ketika itu, dalam rangka diskusi antardosen sefakultas, saya membaca kembali sebuah buku karya Buya Hamka yang pernah saya baca semasa SMA. Judulnya, Tasauf Modern. Kali ini, terperanjatlah saya sewaktu menyimak Bab II, sub-bab “Keterangan I’tikad yang Tiga”. Di situ, Buya menyatakan bahwa TAKDIR BISA DIUBAH. (Pikir saya saat itu, “Buku ini sudah kubaca tiga atau empat kali. Mengapa baru sekarang kusadari adanya informasi ini?”)

Istilah yang beliau pakai untuk menyebut “takdir” di situ adalah “kadar” dan “nasib”. Tepatnya, Buya Hamka menyatakan:

… Luh Mahfuz itu adalah ‘Ummul Kitab’, ibu dari kitab dan nasib, yang memegang dan mengaturnya adalah Tuhan sendiri, isinya menurut kehendak Tuhan, bukan menurut kehendak kita. Tuhan bisa merubah, juga bisa menghapuskan dan bisa menetapkan, bahkan juga menambah, bukan tetap begitu saja:

DihapuskanNya mana yang dikehendakiNya, dan ditetapkanNya mana yang dikehendakiNya, sebab di tanganNyalah terpegang Ibu Kitab itu.” ([QS] ar-Ra’ad [13]: 39)

Kita [pada dasarnya] tak kuasa mengubah kadar, [tetapi] Tuhan berkuasa. Kita wajib bekerja dan berikhtiar, supaya diubah nasib kita oleh Tuhan, diubahNya isi ‘Ummul Kitab’ itu menurut kehendakNya, yang tidak dapat dihalangi orang lain sedikitpun. [Mengapa kita wajib berikhtiar?] Sebab, Dia tidak akan merubah untung nasib yang menimpa kita, sebelum kita rubah lebih dahulu:

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah nasibnya sendiri.

Nasib bisa berubah, asal diikhtiarkan merubahnya lebih dahulu. Kehinaan ummat yang sekarang bukan didatangkan Allah dengan tiba-tiba, tetapi ummat itulah yang memilih kehinaan. Kemuliaan yang tercapai oleh pemeluk agama lain, setelah mereka ikhtiarkan pula lebih dahulu; mendatangkan kemuliaan kepada orang yang pemalas walaupun bagus pengajaran agamanya, atau mendatangkan kehinaan kepada orang yang berusaha [yakni berikhtiar] walaupun pelajaran agamanya kurang bagus, alamat tidak ada keadilan.

Allah Maha Kuasa, kuasa Dia memberikan kemuliaan kepada si goblok, kuasa pula memberikan kemiskinan kepada ummat yang giat bekerja. Tetapi kalau Tuhan melakukan kekuasaan demikian, tandanya Dia tidak adil. Padahal di antara Kekuasaan dengan Keadilan, tidak dapat dipisahkan.

Jadi, walau tidak secara mutlak mampu mengubah takdir, kita bisa mengubah takdir kita di bawah Kekuasaan dan KeadilanNya.

Seperti Pak Eby yang bingung ketika saya ajak AYO UBAH TAKDIR, saya pun ketika itu bingung mendapati bahwa ternyata Buya Hamka menyarankan kita untuk mengubah takdir. Letak kebingungan saya, kedua pihak yang berbeda pandangan mengenai bisa tidaknya takdir diubah ini sama-sama kuat. Hujjah mereka sama-sama tak terbantahkan.

Belakangan, alhamdulillah, kebingungan saya teratasi setelah membaca (dan kemudian menerjemahkan) buku Stephen Palmquist, The Tree of Philosophy (Pohon Filsafat). Di situ, berdasarkan penelitiannya terhadap filsafat Immanuel Kant, Palmquist menerangkan bahwa kebenaran itu bagai permata yang mempunyai banyak sisi/perspektif. Intinya, sudut pandang atau perspektif yang berbeda bisa menghasilkan “kebenaran” yang berbeda walau sama-sama benar. (Lihat Pohon Filsafat, Pekan III, Kuliah 8, Gambar III.7.)

Dari situ, saya pahami bahwa sebenarnya takdir itu tidak bisa kita ubah bila ditinjau dari perspektif transendental, tetapi takdir itu bisa kita ubah bila ditinjau dari perspektif empiris. (Harun Yahya dan Agus Mustofa yang dirujuk oleh Pak Ari dan Pak Eby, begitu pula Pak Agor, cenderung menggunakan perspektif transendental. Sedangkan Hamka yang saya rujuk di sini, begitu pula Dik Donny Reza dalam seri Takdir-nya dan Sdr. Quantum dalam komentarnya terhadap artikel
“Yuk Kita Ubah Takdir?”, cenderung memakai perspektif empiris.)

Menurut saya, perspektif transendental lebih cocok untuk pembahasan di bidang filsafat teoritis, ilmu kalam, ilmu tasauf klasik, dan sebagainya. Sedangkan perspektif empiris lebih efektif untuk pembahasan di bidang filsafat praktis, ilmu fiqih, ilmu tasauf modern, dan sebagainya.

Saya sendiri, dalam menyusun buku AYO UBAH TAKDIR (dengan sub-judul: “mengapa dan bagaimana beralih dari takdir buruk ke takdir baik”), ingin lebih banyak berkecimpung di bidang ilmu tasauf modern. Karena itulah saya lebih suka judul AYO UBAH TAKDIR daripada AYO PILIH TAKDIR. (Di buku Tasauf Modern pun, seperti yang tercermin dalam kutipan di atas, Hamka jauh lebih sering mengunakan istilah “merubah nasib” daripada “memilih nasib”. Ini menunjukkan, beliau lebih suka istilah “ubah nasib” daripada “pilih nasib”.)

Demikianlah tanggapan saya terhadap protes dari Pak Eby mengenai judul AYO UBAH TAKDIR. Silakan memberi masukan!

23 Tanggapan leave one →
  1. 2008 Januari 23

    Setelah menulis komentar saya kemarin, saya ditelp oleh bos saya untuk segera ke Banjarmasin. Selama menjalani proses kesana, saya sempatkan membaca kembali buku Mengubah Takdir karangan pak Agus Mustopa. Untuk memeriksa, apakah pemahaman saya tentang mengubah takdir sudah lurus atau bengkok.

    Memang .. seperti yang dijelaskan oleh Pak Shodiq dan Pak Agus, kata yang tepat memang mengubah. Mungkin karena menggunakan bahasa ‘translate’ dari Al Qur’an .. mungkin karena keterbatasan saya soal bahasa arab.

    Hanya saja, dalam bahasa ibu saya, mengubah adalah mengganti yang sudah ada .. kira2 gitu pak. Misalnya : rumah saya yang tadinya menghadap ke Timur saya ubah menjadi menghadap ke Barat. Mungkin contoh saya terlalu naif.

    Dan setelah saya memahami kembali proses takdir dibuku pak Agus, jelas sekali bahwa takdir itu berubah2 terus sejalan dengan waktu sampai takdir terakhir terjadi yaitu kematian.

    Jadi takdir dapat berubah dari detik ke detik. Seperti yang sedang saya alami saat ini. Berubah2 .. rencana berangkat malam, gagal. Akhirnya pagi dengan harapan bisa langsung connect ke Banjarmasin ternyata gagal juga karena delay.

    Dan sekarang saya terdampar di Juanda. Ketika masuk lounge, kata mbak nya ga ada wifi di lounge tersebut. Tapi saya iseng, coba buka laptop .. eh, ada signal .. dikit. Saya coba dan berhasil.

    Semua itu saya lakukan pilihan. Saya tidak mengubahnya. Ketika saya memilih tidak membeli tiket malam hari. Ketika saya memilih tiket lewat calo. Ketika saya memilih menunda berangkat menjadi lebih siang. Ketika saya memilih iseng2 coba laptop.

    Saya sadar .. karena saya memilih .. saya tidak mengubah. Karena apa yang saya kerjakan .. Allah yang tentukan takdir saya yaitu saya tidak dapat pesawat yang connect karena Allah turunkan hujan pagi hari. Padahal tadi malam langit cerah. Ketika pesawat berangkat, cuaca jadi cerah juga.

    Kemudian Tuhan takdirkan saya bisa online di lounge padahal jelas2 mbak nya bilang ga ada .. yang ada cuma di cafe di luar lounge. Begitulah pak.

    Apapun saya ayoo aja pak .. mau pakai judul apa saja. Saya cuma berpikir beda. Agar produk yang akan dijual tidak sama atau mencoba untuk memberikan tawaran cara berpikir yang berbeda.

    Kalo semua buku dibuat sama .. saya pikir orang akan cukup membeli buku satu saja. Mohon maaf atas kelancangan saya untuk berpendapat. Saya orang baru didunia tulis menulis. Semoga bapak mau memaafkan saya.

    Saya setuju koq pak kalo memang lebih suka dengan mengubah. Ayo saja.

  2. 2008 Januari 24

    Menurut persepsi saya, antara mengubah dan memilih jelas jauh berbeda.

    Kalau mengubah, sepertinya takdir sudah dijalani (mungkin bahasa tepatnya nasib)… tapi kita ingin menggantinya. Seperti, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya.”

    Kalau memilih, takdir belum didapat…sehingga dengan segala akal/ daya upaya kita usahakan agar kita dapat takdir terbaik.
    Takdir adalah rahasia Allah…tapi kita diberi petunjuk lewat AlQur’an dan diberi akal untuk memahami tanda-tandaNya. Kita diberi keleluasaan untuk memilih takdir kita.

    Mohon maaf atas segala kekurangan pendapat saya.

  3. 2008 Januari 24

    @ ratna

    Mbak Ratna tidak salah. Hanya saja, dalam pandangan orang awam pada umumnya, takdir itu sama dengan nasib.

    @ erander

    Saya memaklumi pandangan Pak Eby.

    Saya sudah sedikit-banyak memahami pandangan Harun Yahya (karena sudah menerjemahkan tiga bukunya). Namun saya belum begitu memahami pandangan Agus Mustofa. Saya senang Pak Eby bisa membantu saya memahaminya.

    Mengenai judul, pada akhirnya penerbitlah yang menentukan. Kita hanya mengusulkan.

    Mengenai isi, saya selalu berusaha menampilkan sudut pandang yang baru dalam buku saya. Selama ini belum ada satu pun pembaca yang ajukan komplain bahwa buku saya sama dengan buku lain.

  4. 2008 Januari 24

    Numpang lewat…
    Mengenai takdir, saya suka dengan pandangan orang ttg hidup ini spt permainan video game-nya anak2 muda jaman sekarang. karakter yg ingin dipilih terserah kita, jalan permainan juga terserah kita, tentu saja konsekuensinya tergantung kepada apa yg kita pilih tadi.
    Yg menarik, permainan itu terbukti ada “programmer”-nya, dialah yang membuat semau kemungkinan & semua konsekuensinya itu.
    Tentu saja ini hanya penyederhanaan masalah, tapi yang terpenting adalah bersyukurlah karena kita sudah diberi pilihan.
    Benerapa orang bahkan hanya punya pilihan yang sedikit……..(jadi teringat anak2 miskin di negeri miskin spt yg sering diliat di TV itu)

  5. 2008 Januari 24

    sebaiknya mengabaikan takdir, maaf maksud saya takdir nama teman saya.

  6. 2008 Januari 24

    Assalaamu ‘alaikum warahmatullah.
    Wah, sepertinya akan sangat menarik bukunya. saya mau sok tahu sedikit… :mrgreen:
    Takdir adalah ketetapan atau hukum Allah yang sudah terjadi. Sedangkan Qadha adalah ketetapan atau hukum Allah yang mencakup apa yang belum dan sudah terjadi.

    ketika seseorang ditetapkan oleh Allah meninggal pada hari atau jam sekian, dan orang yang dimaksud belum meninggal, ini dinamakan qadha. namun manakala orang tersebut meninggal, itulah yang dinamakan takdir.

    Jika merujuk kepada definisi takdir dalam term akidah, maka muncul pertanyaan: apakah kita dapat merubah sesuatu yang sudah terjadi?

    Qadha dan Qadar adalah milik Allah, sedangkan manusia hanya -dianggap- diberikan kebebasan dalam hal iraadah (kehendak) dalam menjalankan hukum-hukum yang telah ditetapkan, orang biasa menyebutnya sebagai hukum alam. Artinya, kita manusia memiliki kebebasan dalam berkehendak memilih hukum-hukum Allah yang sudah ada. Namun manusia tidak memiliki kemampuan dalam kehendak merubah qadha dan qadar.

    Oleh karenanya, perlu penajaman terlebih dahulu mengenai apa yang dimaksud Tadir dalam buku ini.

    *halah*

  7. 2008 Januari 24

    Sepakat pak .. soal judul biarlah penerbit yang memilihnya. Bukankah mereka lebih ahli dari kita?? ..

    Jadi .. biarlah saya berangkat dari tema memilih takdir dan bapak dengan tema mengubah takdir. Mudah2an nanti ada titik temu-nya. Kalau tidak ada, mudah2an kita mendapatkan pencerahan dari perbedaan tersebut.

    Setelah pulang dari Banjarmasin, saya akan selesaikan tugas saya. Mudah2an dalam waktu singkat .. sudah kelar.

  8. 2008 Januari 26

    Saya sih nggak ngerti apakah pake perspektif empiris atau transenden, tulisan-tulisan tentang takdir saya hanya berdasarkan pengamatan dan perenungan saja, barangkali karena itu disebut empiris?

  9. 2008 Januari 26

    Memilih, karena kita memang diberi hak untuk memilih (hidup adalah pilihan). Mengubah, hasil akhir tetap OTORITAS Allah. Tapi kita diberi jalan (biasanya sesuai sunatullah) yang memungkinkan adanya perubahan lewat memilih. Meskipun memilih untuk tidak berubah juga suatu pilihan.

  10. 2008 Januari 26

    Dear

    Sekedar berbagi bacaan, semoga menambah wawasan:
    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=420
    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=421
    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=422
    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=423
    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=966
    Nah…Sinyo cuma usul nech untuk judul mungkin lebih tepat:
    Pilihanku, Takdirku ;)

    Salam
    Sinyo menyonyo

  11. 2008 Januari 30

    assalamualaikum
    Manusia diberi kesempatan oleh ALLAH swt untuk mengubah takdirnay dengan Amal Amal baik
    contohnya dengan sholat.
    Para Sahabat Nabi dulu bisa membelah gunung dengan sholat 2 rokaat, bisa berjalan diatas air, bis amembuat penggilingan gandum berputar sendiri menghasilkan gandum.

  12. 2008 Februari 23

    Saya tidak paham juga transedental atau empiris, namun bisa juga itu sebagai pendekatan pola pikir. Namun, karena saya lebih merasa pas kalau takdir itu sebagai ketentuan Allah yang tidak bisa berubah, maka tidak ada sesuatu apapun usaha manusia yang bisa mengubah takdir. Alasannya, karena setiap usaha apapun yang dilakukan oleh manusia berada pada lingkup takdir itu sendiri. Yang bisa dilakukan adalah memilih jalannya takdir yang paling mungkin (mengubah jalan nasib). Jadi, agor memahami nasib adalah “mengambil” satu pilihan takdir.
    Memilih takdir lebih mudah dipahami, tapi mengubah takdir tidak. Mengapa tidak !?. Ya karena kita tidak bisa melihat perubahan takdir. Tidak bisa melihat, merasa, menimbang perubahan ketentuan Allah sedang terjadi.
    Kejadian, Nabi Ibrahim tahan terhadap api (api menjadi dingin bagi beliau), adalah contoh bahwa kita hanya bisa melihat akibatnya, bukan pada sebabnya. Kalaupun ada uraian sebab akibat (penjelasan sains), itu tidak lebih dari sekedar menduga perubahan takdir yang terjadi…
    :D

  13. 2008 Maret 12
    rahmat w permalink

    Takdir adalah kombinasi kadar dan petunjuk (QS. Al A’laa). Kadar hanyalah sebuah potensi yang ditetapkan azali, petunjuk adalah kesadaran persepsi dalam menentukan pilihan yang perspektif untuk aktualisasi diri. Tidak ada alat ukur yang bisa digunakan dalam membahas “mengubah takdir”, karena pada satu waktu hanya terjadi satu kejadian, hingga tidak bisa di bandingkan, atau dengan kata lain sang waktu hanya berjalan satu kali berurutan (continuitas) dengan parameter2 yang unik/ spesific yang tidak kita jumpai sama persis di waktu yang lain. Begitu pula dengan “memilih takdir” . Proses memilih berarti ada lebih dari satu pilihan, padahal pilihan itu sendiri, secara integral (universal) sebenarnya hanya satu dan sudah ditentukan. Yang banyak hanyalah logika kita dalam sebab akibat, Jika pilih ini maka begini. dst-nya. Bagi saya yang penting keSadaran memilih langkah-langkah parsial dalam menyikapi potensi.

  14. 2008 Maret 13

    ya, saya memaklumi pandangan mas rahmat w

    kita tak perlu memperdebatkan apakah takdir bisa diubah/dipilih

    yg lebih penting, bagaimana mengubah/memilih takdir

  15. 2008 Desember 20

    Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)

  16. 2009 April 29

    Manusia ini Tidak Berdaya dan Tidak berupaya.
    Manusia ini hanya dapat memohon, manusia tidak dapat mengubah atau memilih takdir. Yang dapat mengubah atau memilih takdir setiap manusia hanya Allah.

  17. 2009 Agustus 12

    Islam mengajarkan masa lalu, kisah nabi2 terdahulu,,tetapi juga Islam mengajarkan masa yang jauh akan datang dan semuanya pasti terjadi,,seperti tanda2 kiamat, kisah syafaat nabi Muhammad di hari bangkit,,,semuanya sudah ditakdirkan dalam kitab lauh Mahfuzh,,,
    artinya Islam mengajarkan kepasrahan kepada takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah,,, maka Tuhan mana yang bisa mengubah ketetapan Allah,,,mungkin sebentar lagi imam mahdi dan nabi Isa as akan datang,,,bahkan pasti akan datang! dan pasti dajjal pun akan datang,,,dan umat islam pasti akan saling berperang,,,sehingga kedua umat Islam tersebut masuk neraka,,,itulah ketetapan Allah ,,inilah jalan yang lurus,,,wahai manusia bersyukurlah dan ingat lah terus kpd Allah,,,sesungguhnya ingat kepada Allah pun sudah di tetapkan/ditakdirkan,,wasalam

Lacak Balik & Ping Balik

  1. Penyegaran « wak AbduLSomad
  2. Adakah Manusia Ditakdirkan Masuk Neraka?. « Sains-Inreligion
  3. Karena sudah ditakdirkan, perlukah mencari jodoh? « Manajemen Amal
  4. My Wordpress » Blog Archive » SEO Your Self II : Ngapain aja SEO ?
  5. Dua Sudut Pandang terhadap Takdir ala Muhammadiyah « Muslim Moderat
  6. Dua Sudut Pandang terhadap Takdir ala Muhammadiyah | Muslim Moderat

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS