Pilih tidak mabuk-mabukan, tidak berzina, ataukah tidak berbohong?
Minum minuman keras, berzina, dan berbohong itu sama-sama berdosa. Masalahnya, tidaklah mudah mencegah tiga macam kemungkaran ini sekaligus. Karenanya, ada yang perlu lebih diprioritaskan untuk dijauhi. Yang manakah?
Dalam pengamatan subyektif saya, para aktivis dakwah cenderung memprioritaskan pencegahan zina. Kita mencegah zina dengan semangat berkobar-kobar. Sementara itu, pencegahan kebohongan menempati tempat terendah. Hampir-hampir, kita tak pernah melakukan upaya pencegahan kebohongan. Kita biarkan saja para suami membohongi istri, orangtua membohongi anak, pemerintah membohongi rakyat, penjual membohongi pembeli, murid membohongi guru, dan sebagainya.
Dalam tataran pribadi, sejauh manakah kita mencegah diri dari berbohong, berzina, dan mabuk-mabukan? Tampaknya, kita pun cenderung memprioritaskan diri untuk tidak berzina. Pencegahan berbohong pun menempati tempat terendah. Padahal, apakah Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita penetapan prioritas seperti itu (yakni menempatkan pencegahan berzina pada prioritas tertinggi dan pencegahan berbohong di tempat terendah)?
Di bawah ini saya kutipkan sebuah hadits yang diungkapkan oleh Ibnu Hazm El Andalusy, Di Bawah Naungan Cinta (Jakarta: Republika, 2007), hlm. 124:
Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw, didatangi seorang laki-laki. Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku terbiasa melakukan tiga perbuatan: mabuk, zina, dan berbohong. Katakan padaku, mana yang harus kutinggalkan?”
“Tinggalkan kebohongan!” jawab Rasulullah lantang.
Kemudian laki-laki itu pergi dari hadapan beliau. Lalu ia berniat melakukan zina. Tapi sebelum melakukan niatnya, ia bergumam, “Aku nanti akan bertemu dengan Rasulullah lagi. Dia pasti akan bertanya kepadaku, ‘Apakah kamu berzina?’ Jika kujawab ya, dia pasti akan menghukumku. Jika kujawab tidak, aku melanggar janji untuk tidak berbohong.”
Akhirnya laki-laki itu tidak jadi berzina. Dan seperti itu pula yang terjadi ketika ia hendak mabuk-mabukan. Kemudian ia kembali menemui Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, aku telah meninggalkan semuanya.”
Jadi, menurut hadits tersebut, pencegahan berbohong itu perlu lebih kita prioritaskan daripada pencegahan berzina atau pun pencegahan minum minuman keras. Namun tentu saja, saya tidak meminta Anda mengurangi pencegahan berzina atau pun pencegahan minum minuman keras. Yang saya harapkan, prioritaskanlah pencegahan berbohong di atas keduanya!



Orang mabuk cenderung lebih jujur dengan apa yang dikatakannya, bahkan kalau mau tahu rahasia orang lain, suruh mabuk saja dan biarkan dia menceritakan apa yang dia tahu
Tapi, orang mabuk juga bisa lebih mudah terjebak zina, meskipun tidak disadari.
Orang yang berzina dan sadar, belum tentu para pemabuk juga, dan belum tentu berbohong.
Orang yang berbohong, bilang nggak zina padahal zina, bilang nggak mabok padahal mabok. Hehe.
salam sejahtera untuk anda
@ Donny
Jadi, utamakan cegah kebohongan, ‘kan?
@ alfaroby
wa’alaika salam
Pak .. bapak mengingatkan saya tentang cerita tersebut. Rasanya sudah puluhan tahun tidak mendengar / membacanya lagi. Benar banget pak. Pangkal dari semua carut marutnya dunia ini adalah kebohongan.
Coba aja bapak lihat perkembangan ekonomi di Indonesia katanya bagus, tapi kenapa minyak tanah masih antri?? Atau coba saja bapak lihat, berapa banyak umat Islam di Indonesia, tapi kenapa ada yang membakar rumah ibadah.
Oya .. saya sudah terima email dari bapak. Saya belum bisa menjawabnya. Saya shock. Dan maaf jika saya baru tahu .. kalo saya mendapatkan kenang2an dari bapak. Karena akhir Desember hingga awal Januari, saya ga blogwalking karena fakir benwit.