Pilih agama, budi-pekerti, ataukah akal?
Seorang ulama menceritakan bahwa setelah Allah SWT menurunkan Adam a.s. ke bumi, malaikat Jibril datang kepadanya dengan membawa tiga perkara: agama, budi-pekerti, dan akal.
Malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah telah menyuruhmu untuk memilih salah satu di antara ketiga perkara ini.”
Adam menjawab, “Hai Jibril, aku tidak pernah melihat yang terbaik di antara ketiganya ini di dalam surga, selain ini.” Adam pun mengulurkan tangannya kepada akal dan memeluknya seraya berkata kepada kedua lainnya (yaitu agama dan budi-pekerti), “Naiklah kembali kalian berdua!”
Akan tetapi, keduanya menjawab, “Kami telah diperintahkan untuk tetap menemani akal di mana pun ia berada.” Maka jadilah ketiga-tiganya menyertai Adam a.s.
Ketiga perkara tersebut merupakan penghormatan paling besar dan anugerah paling mulia yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya.
============
Sumber: Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Raudhatul Muhibbiin (Taman Jatuh Cinta)



Ah, sudah lama saya mencari kisah ini
Akal adalah segalanya. Betul segalanya. Syarat pokok menjalankan ibadah adalah memiliki akal. Tanpa akal tidak ada syariat. Kaki bisa sakit dan tidak bisa digerakan. Sholat tetap wajib, badan tak bisa digerakkan, dengan matapun jadi. Sholat tetap wajib. Matapun tidak bisa digerakkan dan tertutup, sholat dengan hati. Sholat tetap wajib.
Tetapi, seluruh badan sehat dan petantang petengteng kemana-mana. Tapi hilang akal. Kewajiban ibada gugur.
… Jadi akal adalah permulaan dalam kesegalaan.
Akal merupakan kelebihan manusia daripada makhluk lainnya. Tapi akankah posisi akal diatas segalanya…tentu tidak…karena banyak orang nyang suka mengakali orang lain untuk kepentingannya sendiri. Akal juga bisa membedakan mana nyang baek & juga nyang buruk.
Makanya adanya Agama (Al Qur’an & As-sunnah) sebagai pengontrol akal agar tidak kebablasan dan hanya mengesakan Allah semata serta tunduk dan patuh kepada-Nya.
Nyang diperintah..ya..dikerjain..
Nyang dilarang…ya..ditinggalkan…gitu aja kok repot.
Tadinya ana pernah pilih agama tanpa gunakan akal. Tapi malah tersesat oleh “logika” iblis. Jadi, mulai sekarang ana pilih akal saja deh. Boleh berubah pilihan, ‘kan?
@ fateh
Ustad Shodiq, sbgmn Muhammadiyah, TIDAK menempatkan akal di atas segalanya. Tapi kita oragn Muhammadiyah juga TIDAK mengesampingkan akal utk memahami syariat.
Periksalah artikel http://muhshodiq.wordpress.com/2007/10/27/perlukah-logika-untuk-memahami-syariat-islam/
Jadi makin tau kalau akal selalu ditemani Agama dan Budi pekerti, seharusnyalah akal kita dipergunakan sebaik mungkin untuk mentaati perintah dan menjauhi larangan Agama, senantiasa santun dalam segala hal sebagaimana budi pekerti.
Jadi, mari yang berakal jangan suka akal-akalan dan meng-akal-i orang lain untuk kebaikan diri sendiri.
Terima kasih banyak Pak Shadiq, saya suka sekali dengan tulisan anda, mohon diperbanyak kisah-kisah seperti ini buat saya yang haus dan awam sangat bermanfaat.
oOoo iya makasiy pakk, saya minta maaf dehh
saya kira gak da yg merhatiin eh ada juga yaaa
hehehe……………
dan saya mohon jgn lapor polda metro ya pak..
xixixi
bagus pak tulisan anda
kerja di kompas ya pak ??????????????????