Ketika Manusia Dikalahkan oleh Sapi dan Kerbau

2007 Oktober 29
by M Shodiq Mustika

Hari ini, saat kubaca koran, hatiku terasa pedih bagai diiris-iris. Benakku bertanya-tanya, apakah aku masih manusia? Yang tidak peduli ketika manusia lainnya tak berdaya dikalahkan oleh sapi dan kerbau?

Mataku nanar menatap huruf demi huruf:

LUMAJANG—Lazimnya, bajak ditarik oleh sapi atau kerbau. Tapi, di Desa Papringan, Kecamatan Klakah, bajak ditarik oleh manusia. Hal tersebut dilakukan karena terpaksa. “Masyarakat yang tidak punya hewan untuk menarik bajak terpaksa menggunakan tenaga manusia. Kalau nggak begitu, kami nggak tanam, Mas,” ujar Rudi, 25, warga Papringan.

Napas Rudi masih ngos-ngosan. Dia baru saja menarik bajak. Peluh bercucuran dari tubuhnya. “Itu adalah jalan terakhir,” tambahnya.

Astaghfirullaah….

Masih akan nyamankah aku setiap naik taksi, sementara Rudi “naik bajak” setiap hari?

Masih akan santaikah aku setiap melesat di jalur Solo-Jakarta dengan Argo Lawu atau Argo Dwipangga, sementara Rudi tertatih-tatih “menjadi sapi/kerbau” di lahan penghidupannya?

Memang, bajak yang dipakai Rudi tidak sebesar bajak yang ditarik sapi atau kerbau. Batangnya lebih kecil. Mata bajaknya pun lebih mungil. Kira-kira, sepertiga mata bajak ukuran normal. Karena mata bajak yang kecil itu, tanah yang berhasil dibongkar pun tak terlalu dalam. Yakni, tak sampai 10 cm.

Astaghfirullaah….

Masih akan tegakah aku terbang dengan Lion Air, berdandan rapi bagai Gatotkaca atau Superman? Padahal, Rudi berpeluh lumpur, lebih kumuh daripada sapi/kerbau?

Sebenarnya, apa kelebihanku bila dibandingkan dengan sapi/kerbau yang sama-sama tak peduli ketika bajak ditarik oleh manusia?

———-

Sumber Kutipan: Jawa Pos, 28 Oktober 2007

9 Responses leave one →
  1. 2007 Oktober 29

    Menurutku itu namanya sayang binatang, dengan alasan tidak punya kerbau. Bukankah dulu membajak sebleumkerbau dikerjakan dengna cara memacul? nah memacul itu kemudian diganti oleh kebo dan kini diganti oleh mesin….

  2. 2007 Oktober 29

    Kesulitan mencari penghidupan sepertinya sudah berada diambang batas klimaksnya, sementara untuk sebagian yg lain justru [merasa] berada di puncak nikmatnya.
    Kita pasti akan menyaksikan, karena kefakiran adalah salah satu yg mengantarkan manusia pada kekufuran.
    Kekufuran berjama’ah.. :|

  3. 2007 Oktober 29

    Melihat “ke bawah” selalu membuat kita menjadi lebih bersyukur. Tinggal bagaimana kita mengaplikasikan syukur itu dalam kehidupan nyata.

  4. 2007 Oktober 29

    Weleh-weleh, agaknya binatang, termasuk sapi dan kerbau pun, kini semakin langka. Tenaga binatang yang perkasa tapi dungu itu terpaksa diganti tenaga manusia. Wolak-waliking zaman kali, Pak, ya? Ironis sekali.

  5. 2007 Oktober 29

    Jadi ingat rigsaw .. “delman” yang ditarik manusia. Bagaimana dengan becak .. yang menggunakan tenaga manusia??

  6. 2007 Oktober 30

    @ kurt

    Jadi, itu namanya sayang mesin juga?

    @ Herianto

    Ya, kefakiran mendekatkan kita pada kekafiran. Di lingkunganku, yang paling getol pergi ke paranormal justru yg fakir.

    @ ichsanmufti

    Ya, aplikasi syukur sering terlupakan. Ucapan alhamdulillah saja belum memadai, ‘kan?

    @ Sawali Tuhusetya

    Ya, ironis sekali. Tak lama lagi mungkin akan kita saksikan bahwa para hewan penghuni kebun binatang akan digantikan oleh manusia-manusia yang berbaju hewan. :(

    @ erander

    Mengayuh becak lebih ringan drpd menarik bajak, bukan? Tentunya sapi/kerbau takkan kepayahan bila ditugaskan mengayuh becak. :D

  7. 2007 Oktober 30

    oh duniiiiaaaaaa…..

    btw tulisannya bagus banget pak, boleh saya link?

  8. 2009 Februari 21
    sat1 permalink

    apa yang dipikirkan sama manusia tidaklah sama . . . . . .
    itu menandakan klo dunia ini sudah tua karena hal – jhal aneh yang ngak masuk diakal sehat kita sudah sering terjadi

Trackbacks & Pingbacks

  1. Jadi, ke Mana Rasa Nasionalisme Saya? « Hariadhi

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS