Lelaki Yang Normal

2007 September 25
by M Shodiq Mustika

Konon, lelaki yang normal itu yang “bagai tersengat listrik” bila berdekatan dengan perempuan. Bagaimana bila rasanya biasa-biasa saja? Tidak normalkah?

Berikut perbincangan saudara kita:

Herianto

Saya [dulu] juga termasuk pelaku pacaran. Tergoda dengan isu seperti ini waktu di IMM. Sebagai seorang Immawan, saya berhasil merebut hati seorang Immawati.
Tapi saya gagal kalo hubungan kami tsb disebut sebagai : pacaran Islami.
Tau kenapa ?
Karena saya lelaki normal.
Saya juga mati2 an menjustifikasi hubungan kami tsb sebagai hubungan Islami. Tetapi kenormalan (!) saya membuktikan bahwa justifikasi tersebut sia2.

Saya teringat dengan tradisi dansa di negeri barat dengan pasangan bebas yang konon katanya itu tidak dilakukan dengan [keberadaan] dorongan hawa nafsu mereka. Saya mengatakan bahwa seorang lelaki berdansa, berpegangan mesra, goyang sana-sini, sentuh sini situ, lalu katanya itu tidak mendorong nafsu kelelakian-nya. Saya bertanya,”Lelaki normalkah mereka ?”

Pacaran Islami ? Silahkan…
Tetapi jika [kelelakian] anda normal, saya ragu jika itu akan tercapai. Apalagi di saat kita hidup dengan godaan2 yang seperti…, WOW.
Gimana pak kalo kita juga menyarankan teman2 untuk kawin, eh nikah aja dah secepatnya. Biar mereka yg belum punya penghasilan juga buru2 (jadi lebih bergiat) mencarinya.

Kaezzar:

Waduh, maaf mas…
Masa iya karena mas dulu g kuku nahan nafsu, terus semua org jadi dijustifikasi ngga bakal mampu juga….lha piye iki tho?

Apalagi kalo sampe dibilang…”diragukan kenormalannya sebagai laki2
Ini aneh loh…aneh banget malah…
Bisa njaga nafsu malah dibilang bukan laki2 normal D

Bagaimana mas?

Herianto

He he he…
Setelah membaca postingan p Shodiq di sini saya jadi berpikiran lain, soalnya kanda2 saya di IMM yang tak menolak aktivitas pacaran dulu gak begini seh penjelasannya :
Barangkali asbabun nuzul p Shodiq membuat “ide” usaha ini adalah akibat melihat realita bahwa aktivitas pacaran di sekitar kita memang sudah meraja-lela dan sulit di stop dgn cara2 biasa. Maka p Shodiq pun melakukan hal ini untuk meredam maksiat yg lebih besar. Semoga dugaan saya benar.
Kalo bgitu yg saya tahu sekarang ada 2 metoda dalam meredam negatif aktivitas pacaran yang konvensional :
1. Para aktivis Islam (ikhwani) melakukannya dengan mengembangkan fatwa bahwa pacaran haram. Usaha ini sukses untuk kalangan mereka, tetapi mungkin akar rumput banyak yg tidak mengindahkannya.
2. P Shodiq punya gagasan lain [saya pikir, kalo saya benar, ini original] begini kali usaha bapak : biarlah kita luruskan saja keinginan muda-mudi tetapi pelan2 kita arahkan agar maksiat yg lebih besar tidak terjadi.

Wallahu a’lam.
Itu dulu koreksi saya atas komentar saya sebelumnya.
Ntar kita diskusi lagi da…h D

14 Responses leave one →
  1. 2007 September 25
    abdrazaq permalink

    Syukurlah. Senang juga melihat diskusi yang penuh dengan warna persaudaraan.

    Kebanyakan perdebatan bersumber dari perbedaan sudut pandang. Ketika perbedaan ini disadari, perdebatannya pun takkan panas.

  2. 2007 September 25
    sisca79 permalink

    Postingan yang menarik.
    Biasa-biasa saja bukan berarti tidak normal.Semuanya kembali ke pribadi dan akal sehat masing-masing.

  3. 2007 September 25

    saya sih normal… :D

  4. 2007 September 25

    gimana ngetes-nya, Pak?

    masa saya tanya, “Bang, kamu kesetrum ga kalo deket aku?”

  5. 2007 September 25

    oh, ternyata kenormalan itu sebatas setrum menyetrum toh. :lol:

  6. 2007 September 25

    @abdrazaq
    Betul. Mudah-mudahan kita selalu senormal itu.

    @sisca79
    Makasih. Mudah-mudahan pribadi dan akal kita normal.

    @Shelling Ford
    Normal seperti siapa? Kaezzar atau Herianto?

    @calonorangtenarsedunia
    Untuk cara ngetesnya, misalnya, lihat Cara Praktis Mendeteksi Ketulusan Cintanya

    @danalingga
    iya, cuman kesetrumnya gak terbatas pada yg muda saja

  7. 2007 September 25

    :???:
    eum, pacar saya normal gak ya?

    #calonorangtenarsedunia
    oooh…manggilnya “Abang” ya?
    :lol:

    ato, nama pacarmu “Bang Toyyib” ?

    :mrgreen:

    ampun Han…ampuun…

  8. 2007 September 25

    Wah, akalu dah bicara normal nggak, ini buth pengakuan jujur, sebab ada kalanya orang sih sering ngomong biasa2 saja ketika berdekatan dengan lawan jenisnya meskipun jiwa dan nafsunya bergolak, hehehehe.
    Tapi ini penting juga untuk diketahui oleh semua lelaki yang mengaku dirinya “normal”.
    Ok, salam.

  9. 2007 September 26

    @ Herianto

    Maka p Shodiq pun melakukan hal ini untuk meredam maksiat yg lebih besar

    Banyak cara untuk mendidik seseorang. Bisa dengan kekerasan bisa juga dengan kelembutan. Situasional … Dijaman yang sudah melek HAM, tentu cara kekerasan dan pemaksaan sudah tidak populer lagi. Saya lebih senang dengan metode yang menyentuh hati. Karena iman dimulai dari hati. Bukan dari phisik.

  10. 2007 September 26

    @Shelling Ford
    Sudah berapa korban lu Joe ? :mrgreen:

    @Erander
    Diskusi kita lanjut terus kok : http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-888

    @M Shodiq Mustika
    Napa yak pak beberapa teman yg mendukung gagasan ini sering tanpa link ke site-nya. Hemat saya mereka semestinya memiliki blog juga… Jangan malu2in dong… :lol:

  11. 2007 September 26

    kalo ga ketemu kan repot, Pak Muh?

    @siwi
    Pacarku namanya Bang Farid.. wehehe47x..

  12. 2007 September 27

    @ Mrs. Neo 49
    Selamat menjalankan pacaran secara islami. Masih dengan si dia, ‘kan?

    @Sawali
    :) Pak Sawali sendiri ngakunya normal, nggak?

    @erander
    Betul. Begitulah pelajaran dari ilmu dakwah yang pernah kupelajari. Apa Pak Eby pernah belajar ilmu dakwah juga?

    @Herianto
    Kami memaklumi mengapa mereka “malu-malu kucing”. Di zaman sekarang, ada tidak sedikit saudara kita yang menjadi teroris dengan mengatasnamakan jihad. Orang yang tidak sepaham dengan mereka, mereka pandang murtad atau kafir, hingga darahnya halal untuk dibunuh. Menakutkan, bukan?

    @calonorangtenar
    Nggak ketemu nggak pa pa. Bisa suruh orang lain jadi “mata2″.

  13. 2007 September 27

    Saya tidak pernah belajar dakwah. Saya juga bukan lulusan pesantren. Saya banyak belajar dari sekeliling alam, baik dengan manusia maupun mahluk2 lainnya baik mahluk hidup maupun mahluk mati seperti batu, pasir, kendaraan dlsbnya.

    Seperti menyaksikan pertumbuhan sebutir biji, kemudian muncul kecambah kemudian menjadi pohon yang besar. Subhanallah. Atau menyaksikan seekor anak tupai yang kecil banget dan lemah, setiap hari disuapi susu hingga besar dan bisa meloncat kesana kemari.

    Bagi saya, belajar bisa dari mana saja. Perbedaan buat saya justru membuat ini indah. Tak dapat saya bayangkan jika Allah menciptakan seisi dunia ini seragam, satu macam saja, serupa, .. weleh, weleh, pasti hidup amat sangat membosankan.

  14. 2007 Oktober 10

    em….emang seh tu bisa dikatakan normal, tapi……….ada juga yang hiper lho…..hati aja.
    Mas normal g’???

    Met kenal yo…….mas, eh sorry bang

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS