Jangan hanya melihat apa yang tertulis!
Sepertinya, aku mesti lebih mengasah kemampuan tulisku supaya pembaca tidak ‘salah-paham’ atau pun ‘sesat-pikir’. (‘Salah-paham’ mengacu pada kelirunya hasil penyimpulan; ‘sesat-pikir’ menunjukkan kelirunya proses pengambilan kesimpulan.)
Ambil contoh, seorang pembaca mengatakan bahwa aku “membagi 4 tipe orang yang menurutnya sulit didakwahi, diantaranya : anak nakal, remaja pemberontak, orang dewasa awam, dan ahli agama.”
Masya’Allaah…. Kata-katanya itu sungguh mengada-ada. Aku tidak pernah mengadakan pembagian yang ‘aneh’ seperti itu. Yang aku tulis:
Telah lebih dari seperempat abad aku berdakwah. Berbagai suka-duka kualami. Berbagai jenis orang kuhadapi. Dari yang muda hingga yang tua, dari yang awam hingga yang ahli agama.
Di antara mereka, tipe manakah yang paling sulit aku dakwahi? Tebaklah di antara empat tipe berikut:
- Anak nakal
- Remaja pemberontak
- Orang dewasa awam
- Ahli agama
Dari kalimat-kalimat tersebut rupanya sang pembaca mengambil kesimpulan yang keliru bahwa aku telah mengadakan pembagian (klasifikasi). Bila ditinjau dengan ilmu mantiq, maka kekeliruan pengambilan kesimpulannya ini disebut ‘sesat-pikir’ lantaran ‘melalaikan pengertian implikasinya’. Kekeliruan ini terjadi karena pembaca “hanya melihat apa yang tertulis tidak memperhatikan pengertian yang terkandung pada pernyataan itu.” (Lihat buku-buku ilmu mantiq, misalnya: H. Mundiri 60 Jenis Sesat Pikir (Semarang: Aneka Ilmu, 1999), hlm. 6-7.)
Untuk jelasnya, mari kita membandingkan teka-teki dariku tadi dengan sebuah soal yang aku kutip dari buku Walker Percy, The Last Self-Help Book: Sebuah Perenungan Filsafat dan Semiotika Diri dengan Gaya Humor Satir (Yogyakarta & Bandung: Jalasutra, 2006), hlm. 45:
Anda diundang ke suatu pesta. Anda punya pilihan untuk pergi ke sana sebagai salah seorang dari empat orang berikut ini. Yang mana yang Anda pilih?
(a) Mickey Rooney, yang (kita anggap saja) tidak pemalu (tapi siapa yang tahu?), yang masuk ke ruangan bagai angin tornado
(b) Johnny Carson, yang ketakutan, yang mengendap-endap menempel ke dinding ruangan dengan memakai kacamata hitam berharap tak ada seorang pun yang mengajaknya bicara, dan kemudian merasa menderita karena tak ada seorang pun yang mengajaknya bicara
(c) Diri Anda sendiri, yang pemalu dan berpikir tidak semestinya Anda pemalu, sehingga Anda menghabiskan seluruh energi Anda untuk menyembunyikan penyakit parah Anda itu dan berupaya mencari tahu bagaimana mengobatinya
(d) Diri Anda sendiri, yang pemalu, namun tahu bahwa Anda berhak untuk jadi pemalu dan bahwa orang lain juga mungkin berada dalam posisi yang sama, sehingga menerima situasi ini seperti seorang narapidana yang dilempar ke dalam terali besi dengan sepuluh pemabuk lainnya
Apakah dengan soal tersebut, sang penulis mengadakan pembagian atau klasifikasi (mengenai tipe orang yang pemalu)? Tidak! Begitu pula dengan soal teka-teki yang aku ajukan di atas.
(Untuk fakta lain mengenai ‘sesat-pikir’-nya pengambilan kesimpulan sang pembaca, lihat Ekspresi Cinta Yang Syar‘i dan Ramadhan untuk pacaran saja?)



Orang yang berdiskusi mestinya menguasai logika supaya tidak terjebak pada sesat pikir.
Jika terjebak pada sesat pikir (tanpa disadari), maka terjadilah debat kusir.
Alhamdulillah saya dinyatakan sebagai orang yang sesat-pikir lagi
dalam jawaban terhadap tulisan ini.
Katakanlah saya salah menyimpulkan, lantas apakah menurut Pak Shodiq Mustika adalah hal yang benar melakukan generalisasi terhadap ‘ahli agama’?? Beliau tidak menjelaskan ‘ahli agama’ seperti apa yang sulit menerima kebenaran itu?? apakah karena jangan2 setelah dijelaskan, beliau juga termasuk orang yang sulit didakwahi
, wallahu’alam. Bagi saya pribadi, ayo kita berdakwah, mengenai hasilnya kita serahkan kepada Allah, tetapi ketika ada perkara2 agama yang tidak ketahui kedudukan hukumnya, saya tidak akan ragu untuk bertanya kepada ahli agama.
Semoga Allah SWT menunjuki kita semua kebenaran itu adalah kebenaran dan kesalahan itu adalah kesalahan.
wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh