Identitas Diri: Muslim Liberal ataukah Salafi?

2007 Mei 14
by M Shodiq Mustika

“Apakah Kak Shodiq berpaham salafi?” tanya seorang gadis seusai berkonsultasi denganku mengenai jin dan mengenai shalat.

“Ya, boleh dibilang begitu. Emangnya kenapa, De?” jawabku dan tanya balikku.

“Heran aja. Kalo salafi, kok kampanye pacaran islami? Bukannya Kak Shodiq ini muslim liberal?”

Begitukah? Sebetulnya, aku lebih suka dicap “mukmin” saja. Tapi dia rupanya ingin “mengenal” posisiku: muslim liberal ataukah salafi?

Loh, emangnya berislam itu cuman ada dua pilihan: liberal atau salafi? Apa gak ada pilihan lain? Kalau pun pilihannya cuma dua itu, apa kita gak bisa salafi dalam hal-hal tertentu, tapi liberal dalam hal-hal lain?

Sebenarnya, kalau pun kemuslimanku dilabeli, aku lebih suka disebut “muslim muhammadi”. Karenanya, jawabanku terhadap pertanyaan seorang adik itu adalah:

“Aku tak keberatan kau sebut muslim liberal atau pun salafi. Tapi aku lebih suka kau sebut ‘muslim muhammadi’. Artinya, muslim pengikut Nabi Muhammad saw. sebagaimana Muhammadiyah.”

“Lha Muhammadiyah itu keislamannya bagaimana? Islam liberal ataukah salafi?” tanyanya lagi dengan nada penasaran.

 muhammadiyah.gif

“Islam liberal dan sekaligus salafi,” jawabku setelah berpikir sejenak, teringat keterangan Haedar Nashir, “Karakter Muhammadiyah“, dan penjelasan Dien Syamsuddin, Pemikiran Muhammadiyah: Respons terhadap Liberalisasi Islam.

“Kak, maksudnya apa?” tanyanya dengan nada bingung.

“Begini, De. Dalam hal aqidah (keimanan, misalnya mengenai jin) dan ibadah mahdoh (ritual yang tlah ditentuin tata-caranya, kayak shalat, puasa, haji), kita sangat salafi. Tapi dalam hal lain, apa kita harus salafi juga? Tidak. Di bidang muamalah (hubungan dengan sesama manusia) yang bersifat duniawi, kita cenderung liberal.”

Maksudku, sebagaimana kata Dien Syamsuddin, kita terbuka “terhadap pandangan lain yang positif dan maslahah, termasuk pemikiran Barat, tanpa harus silau terhadap Barat, tetapi justru kritis dan selektif terhadapnya.” [maslahah = membawa manfaat] Dalam urusan duniawi, Muhammadiyah “menggunakan prinsip antum a’lamu bi umuri dunyakum” (Pemikiran Muhammadiyah, hlm. xi-xii) ["antum a'lamu bi umuri dunyakum" adalah sabda Nabi yang bermakna: "kamu lebih tahu urusan duniamu".]

Begitulah posisiku (dan posisi Muhammadiyah) perihal paham salafi dan liberal. “Salafi” di bidang aqidah dan ibadah mahdoh, “liberal” di bidang mu’amalah duniawi. Bisa dipahami, ‘kan?

38 Responses leave one →
  1. 2007 Mei 15

    Jika pandangan Kang Shodiq seperti itu, tentunya saya sepakat. Bagi saya sendiri, Aqidah dan Ibadah Mahdoh adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Lain halnya dengan muamalah yang dalam banyak hal kita dituntut untuk ‘bijaksana’, meskipun, saya tetap merasa ‘rancu’ dengan istilah ‘pacaran islami’ :D
    Ngomong-ngomong tentang Muhammadiyah, saya merindukan sosok seperti HAMKA yang bisa menenangkan umat juga faqih…:) Adakah di Muhammadiyah sekarang? Sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan Muhammadiyah.

    Terima kasih atas pengertiannya, Dik Donny. (atau manggilnya Kang Donny aja?)

    Jika yang dimaksud adalah sosok yang “serba bisa” (agama, filsafat, sastra, komunikasi, dll.), maka sulit kita jumpai sosok seperti itu. Muhammadiyah sekarang lebih cenderung mendorong spesialisasi dan ijtihad kolektif.

    Jika yang dimaksud adalah sosok yang bisa menenangkan umat dan sekaligus memahami ilmu agama Islam dengan mendalam, maka tak sedikit tokoh Muhammadiyah masa kini yang seperti itu. Di antaranya ialah Dien Syamsuddin dan Yunahar Ilyas. Dengan keberadaan tokoh-tokoh yang menenangkan umat seperti itulah, Muhammadiyah selamat dari perpecahan antara warga Muhammadiyah yang “terlalu liberal” dan yang “terlalu salafi”.

  2. 2007 Mei 17

    Hiks, kalo saya termasuk yang mana ya…? :D

    Saya juga gak suka label-label seperti itu… biasa-biasa ja dah…

  3. 2007 Mei 17

    O gitu ya. Saya pernah tertuduh jadi salafi liberal, dan diduga mengembangkan jaringan salafi liberal.

  4. 2007 Mei 17

    Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

    kalau saya…. MUSLIMAH. :)
    nggak ada ‘embel-embel’ apa-apa di belakangnya. :)

  5. 2007 Mei 18

    Bukankah ajaran salaf sudah mencakup kriteria yang bapak maksud dengan ‘liberal’ dalam hal duniawi? Karena Para salaf pun yakin dan mengamalkan hadits “antum a’lamu bi umuri dunyakum”. Dalam bidang muamalah duniawi. Berati di bidang muamalah (hubungan dengan sesama manusia) yang bersifat duniawi, kita pun benar bersikap salafi.

    Sedangkan yang kita kenal dengan islam yang liberal saat ini terbukti kebabalsan dan enggan bersikap seperti salaf bahkan dalam bidang aqidah maupun ibadah mahdoh. Dan istilah ‘liberal’ itu sendiri nantinya akan menjadi senjata makan tuan.

    Jadi menurut saya. Penggabungan kata liberal setelah salafi itu terlalu dipaksakan dan muncul dari ketidakpahaman terhadap konsep salaf itu sendiri.

    Bentuk kesalahpahaman lain adalah jika ada yang mengaku salafi namun terlalu kuno dan jumud dalam masalah muamalah dunyawiyah.

    Monggo di luruskan jika dirasa anggapan saya ini keliru. :)

    Mengenai pacaran Islami bukankah memang ada pacaran setelah menikah :D

  6. 2007 Mei 19

    Hasilnya adalah Kang Shodiq adalah Islam “Abu abu”..!

  7. 2007 Mei 22

    @Heri Setiawan
    Aku gak berani melabeli orang lain dengan suatu istilah yang berkonotasi “buruk”. Barangkali cukuplah bila kukatakan bahwa akhi adalah saudaraku sesama muslim.

    @wirawax
    Selama orang-orang ingin mengenali siapa diri kita yang “sebenarnya”, selama itu muncullah berbagai label yang mereka sematkan kepada diri kita.

    @Iwana Nashaya
    Wa’alaikum salaam warahmatullaahi wabarakaatuh.
    Boleh-boleh saja kita menjuluki diri sesederhana itu. Masalahnya, apakah di benak orang-orang (dan dalam catatan malaikat Raqib/Atid) juga tertanam pandangan bahwa Dik Iwana adalah “muslimah” saja? (Aku sendiri saat ini mengidentifikasi Dik Iwana sebagai seorang ukhti yang saling cinta denganku dengan setulus-tulusnya.)

    @ichsanmufti
    Yang “memiliki” istilah adalah masyarakat. Kita tidak bisa melarang mereka menggunakan istilah “salafi” (atau pun “liberal”) terhadap sesuatu yang sebetulnya tidak salafi (atau pun tidak liberal). Namun, kita dapat mengarahkan mereka supaya penggunaan istilah itu (termasuk istilah “pacaran islami”) membawa mereka ke arah kebenaran/kebaikan. Contohnya ya seperti yang telah mas ichsan jelaskan bahwa “ajaran salaf sudah mencakup kriteria yang bapak maksud dengan ‘liberal’ dalam hal duniawi”. Usaha penjelasan mas ichsan seperti itu kudukung sepenuhnya.

    @Ahmad Dzikir
    Silakan melabeli diriku “muslim abu-abu”. Apa pun yang akhi maksudkan dengan istilah ini, mudah-mudahan malaikat raqib menangkap istilah ini sebagai sesuatu yang baik dan diridoi Allah SWT. Amin.

  8. 2007 Mei 22

    Sebenarnya ketika baca postingan ini saya kurang setuju, dalam hati ada yang agak kurang pas gitu…. Ntah dimananya??? wallahu alam.

  9. 2007 Mei 22

    Benar pak. Kalo soal ibadah, itu urusan kita dengan Sang Khaliq. Tapi kalo soal hubungan manusia tentu ada penyesuaiannya asal tidak merubah/mempengaruhi hubungan kita dengan Allah.

  10. 2007 Mei 22

    @Alief
    Kekurangsetujuan Cak Alief itu mungkin karena Cak Alief menggunakan “kacamata eksakta”. Kalau memang begitu, saya bisa memakluminya. Pasalnya, postingan ini menggunakan “kacamata non-eksakta”, yaitu ilmu komunikasi.

    @erander
    Terima kasih, thank you, matur nuwun.

  11. 2007 Mei 23
    bond permalink

    Assalamualaikum….

    Kl saya gk ngerti apa itu salafi, wahabi, liberal…
    apa di jaman nabi dulu ada istilah islam seperti itu?
    (maaf saya bertanya krn emang gk ngerti)
    Kl saya muslim asal gk menyalahi Alquran iu aj

  12. 2007 Mei 23
    care4education permalink

    Waduh, topik kayak gini saya totally ra mudheng kecuali…
    Ini, menurut saya mending dalam bermuamallah ga usah pake label segala dah… yang penting yang terbaik sesuai petunjuk Al Qur’an dan Hadits. Kalo ada perbedaan, anggap saja bagai cokelat dan keju untuk topping donuts? Sahabat sepeninggal rasulluloh dulu ajah tetap dinamis dan serasi dan ga make label-label-an…
    Setuju?
    Ayo.. kembali ke … Al Qur’an dan Al haditst!

  13. 2007 Mei 24

    Pada jaman Rasulullah saw. sudah ada pelabelan/penamaan: muhajirin, anshar, bani hasyim, dll.
    Menurut Al-Qur’an pun (apa nama surat dan nomor ayatnya silakan cari sendiri), Adam a.s. diciptakan dengan disertai kemampuan pelabelan/penamaan.
    Kemampuan insani inilah yang membuatnya lebih unggul daripada makhluk-makhluk lain.

    Pelabelan adalah bagian dari cara pikir manusia. (Lihat deBono, Berpikir Praktis.)
    Tentu saja, apabila menyimpang jauh dari fitrahnya, kemampuan ini justru bisa menjerumuskan manusia ke tingkat yang lebih rendah daripada binatang.
    Tugas kitalah mengarahkan penggunaan istilah menuju kebenaran/kebaikan sesuai dengan fitrah manusia.

  14. 2007 Mei 25
    nurul permalink

    salafi vs liberal aduh kayaknya tak bisa digabung deh

    Karena Anda merupakan bagian dari masyarakat, boleh-boleh saja Anda berpandangan demikian. Toh istilah-istilah merupakan milik masyarakat.

  15. 2007 Mei 30

    untuk lebih jelasnya ttg manhaj salaf, silakan kunjungi ::

    http://islam-download.net/salaf-salafi-salafy-salafiyah-salafiyyah.html

    salam,
    http://islam-download.net

  16. 2007 Juni 17
    disasuwatno permalink

    1. marilah kita bersikap simple, letakan semua pada tempatnya
    2. marilah kita bersikap proporsional, semua sudah ada porsinya masing
    3. marilah bersikap komprehensif, apakah al’quran dan sunah masih kurang dan kita merasa lebih cerdas dari imam safii,lebih jagoan dari umar, lebih faqih dari ibnul qoyim atau kita lebih hebat dari rasul……….
    4. marilah kita berkarya bagaimana rakyat kita bisa hidup layak dengan penghasilan yang cukup sehingga kita coba memaksakan logika kita yang sangat terbatas untuk menjangkau sesuatu yang tidak terbatas………………………………………

  17. 2007 Juni 17
    disasuwatno permalink

    refisi no 4 lagi nulis ada telephone masuk jadi gak konsen……………….
    maksudnya agama islam itu udah paripurna show jangan komentar dulu lha wong belajar aja belum ko mau komentar ntar keblinger okje !!!!!!!!
    berkarya yang nyata ajalah
    1. dalam diri kita ; nambah ilmu, ibadah yang istiqomah,berbadan yang sehat
    2. tuk keluarga punya penghasilan yang tidak terbatas tuk keluarga, punya waktu takm terbatas tuk keluarga, punya ilmu tak terbatas tuk keluarga, punya ilmu tak terbatas tuk keluarga
    3.tuk sosial punya hati tak terbatas tuk tetangga, punya ilmu takterbatas tuk tetangga, punya harta tak terbatas tuk tetangga

    waduh damainya ………………”””’

  18. 2007 Juli 25

    Salam. Saya juga seorang Muhammadiyah.

  19. 2007 Agustus 6
    ryrye permalink

    apakah sudah sedemikian jeleknya istilah2 islam sehingga harus pake istilah liberal segala. rasanya julukan muslim& mukmin sudah cukup sebagai identitas kita.

    gak gitu dong
    ini bukan soal elok-jelek, tapi untuk lebih “mengenal” saudara sesama muslim

  20. 2007 September 4

    Tapi dia rupanya ingin “mengenal” posisiku: muslim liberal ataukah salafi?

    “Begini, De. Dalam hal aqidah (keimanan, misalnya mengenai jin) dan ibadah mahdoh (ritual yang tlah ditentuin tata-caranya, kayak shalat, puasa, haji), kita sangat salafi. Tapi dalam hal lain, apa kita harus salafi juga? Tidak. Di bidang muamalah (hubungan dengan sesama manusia) yang bersifat duniawi, kita cenderung liberal.”

    Ha… ha… iya, Emang begitulah nafsu, maunya tetap beragama, tapi pilih-pilih mana yang enak dan pas……. :lol:
    kadang ini – kadang itu?

  21. 2007 September 4

    @ k* tutur

    Kami warga Muhammadiyah memilih mana yang benar dan baik dengan berdasarkan dalil yang paling kuat. Kalau yang benar dan baik itu ternyata terasa enak dan pas, itulah karunia dari Allah yang layak kita syukuri.

  22. 2007 Oktober 4

    kalo menurutku… :-?
    walau berbeda cara kita masing-masing beribadah untuk mematuhi perintah allah dan selama cara itu tidak keluar dari tujuan kita yang sebenarnya sama yaitu satu, bersama-sama ingin bertaqwa, patuh pada perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

  23. 2007 Oktober 28

    all round…
    fleksibel…
    saya pikir islam itu kayak gitu; memaknai problem tergantung permasalahan umat.
    mungkin seperti posisinya guti hernandez di real madrid :D

  24. 2007 Oktober 29

    @ Qq

    Ya, aku setuju. Yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling taqwa, ‘kan?

    @ Shelling Ford

    Yupp…
    mungkin seperti posisinya javier zanetti di internazionale

  25. 2007 Oktober 29

    Sampe kapan pun saya akan tetap Muhammadiyah.. :)
    Karena Allah mewajibkan kita mengikuti (beruswah) pada rasuluLlah Muhammad SAW.
    ————–
    Saya sedang memikirkan topik diskusi masalah manfaat-mudharat organisasi struktural di tubuh ummat, semacam Muhammadiyah, NU, dstnya.
    Ada semacam opini di kawan2 yang seakan menafikan kbutuhan struktural tsb akibat egisme yg diperlihatkan sebagaian kelompok/organisasi tsb. Anggota/pendudukung Muhammadiyah barangkali mengatakan bahwa mereka2 tidak egois dalam berpemahaman, tetapi hampir semua organisasi yg ada di tubuh ummat ini pun pasti berkata demikian dalam menilai dirinya sendiri. Lalu apakah berarti kita mesti ber-solusi : bubarkan organisasi2 di tubuh ummat ini (anti hizb). Saya menjawabnya : jangan, manfaatnya jauh lebih kita butuhkan ktimbang mudharat yg terjadi. Gmana nih pak ?

  26. 2007 Oktober 30

    @ Herianto

    Good idea. Itu gagasan menarik. Nanti kasih tahu aku, ya, bila sampeyan sdh memulai diskusi tsb!

    Aku pernah baca hasil penelitian (sayangnya lupa sumbernya), di Makassar umat Islam malah semakin jarang bertikai setelah berdirinya ormas Muhammadiyah & NU di situ.

    Di SumBar, pernah ada perang antara kaum pembaharu dan kaum pengikut tradisi (yaitu perang Paderi). Setelah ada Muhammadiyah, tidak ada lagi perang antara kedua pihak.

    Dlm pergaulanku sehari-hari dg orang2 nonMuslim, mereka tampak menaruh hormat/segan kepada orang2 Muhammadiyah & NU, tapi mereka kurang menghargai orang Islam yg tidak berafiliasi ke ormas Islam mana pun.

    Di dunia binatang, bukankah srigala mengincar domba yang terpisah dari “jamaah”-nya?

  27. 2007 Nopember 12

    Ass wrwb
    salam kenal….,dari samarinda
    (saat ini saya baru ajah kuliah lagi (alih jenjang) di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah

    sebelumnya saya minta izin mencopy logo/lambang muhammadiyah

    terima kasih

  28. 2007 Nopember 12

    maaf ada 1 pertanyaan,

    mau tanya, apakah Muhammadiyah itu aliran dalam islam atau hanya sebuah wadah/organisasi islam ?

    mohon penjelasannya ?
    terima kasih

  29. 2007 Nopember 12

    sa’alaikum salam wr. wb.

    salam kenal juga

    Di mata masyarakat, muhammadiyah sering dipandang sebagai aliran.

    Di mata pemerintah, muhammadiyah biasanya dipandang sebagai organisasi.

    Adapun orang-orang muhammadiyah sendiri biasanya lebih suka memandangnya sebagai gerakan.

  30. 2007 Nopember 22

    saya juga seorang yg kagum dg muhammadiyah.
    saya jg belajar langsung dg Ust. Yunahar Ilyas di Pondok Budi Mulia…
    saya terkesan dg kemoderatan yg dibawa muhammadiyah dan bagaimana dakwah muhammadiyah yg jelas2 konkret >> terbukti dengan berjibunnya amal usaha Muhammadiyah,,semoga muhammadiyah bisa terus berjuang di jalan dakwah Islam, apapun itu halangannya.
    ust. Shodiq, syukron,, mungkin lain waktu antum bisa main ke budi mulia… :)

  31. 2007 Nopember 23

    Akhi Zulfi, sudah lama saya tidak main ke Budi Mulia. (Waktu saya sekarang tersita di depan komputer.) Kangen juga sih. Dulu, semasa aktif di IMM, saya sering main ke situ. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kesempatan kita bertatap-muka.

  32. 2007 Nopember 23
    Salsabila J permalink

    ooooo gituuuuuuuu

    *manggut-manggut*

  33. 2007 Desember 7

    salafy ama liberal ini bias pak. mungkin bisa dibantu mencari definisi hakikinya apa. biar kita-kita tidak bingung. salafy sejauh apa, liberal sejauh apa?

    • 2009 Mei 19

      Salafy itu kan hanya penamaan saja, yang maksudnya pengikut Manhaj Salafush-Shalih (jalan/cara yang ditempuh oleh orang-orang yang terkenal shalih pada zaman dahulu – generasi awal perkembangan Islam, yaitu Rasulullah SAW, Shahabatnya, tabi’in dan tabiut-tabi’in). Jadi gak usah bingung. Beragama gak boleh bingung Mas! kalau kita sudah berusaha menuntut ilmu Agama dan mempraktikkan agama Islam ini secara ikhlas, selanjutnya tinggal berserah diri kepada Allah SWT. Semoga Allah ampuni kekurangan-kekurangan kita. Ada buku yang bagus untuk dibaca tuh: 6 PILAR DAKWAH SALAF terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

  34. 2008 Januari 19

    liberal bukan Islam kan?

  35. 2009 Juni 11

    Lha kalo saya sih lebih seneng disebut Salafy…biar yang laen bilang bukan…ya kalo saya sih berusaha mengikuti sebisa mungkin salafus sholeh…kalo gak terlalu mirip ya gak popo…kalo berbeda masalah ijtihadiyah ya gak popo …asal jangan disebut liberal aja….

Trackbacks & Pingbacks

  1. Pemetaan Wacana Keagamaan [Islam] di Seputar Blogger : Studi Kasus Blogger WP « HERIANTO ’s blog

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS