Benarkah dengan bershalat, kita bisa menjadi kaya?
Mungkinkah shalat dapat menjadikan pelakunya kaya, bahkan bila telah terpuruk dalam kemiskinan? Mari kita analisis.
Dalam buku The Power of Simplicity, Jack Trout & Steve Rivkin mengutip pernyataan Ross Perot sebagai berikut:
Kehidupan serupa dengan jaring laba-laba. Benang-benangnya saling bersilangan secara aneh. Sukses tidaknya Anda tidak tergantung pada seberapa baik rencana strategis lima-tahunan yang diajarkan di sekolah-sekolah bisnis. Kesuksesan tergantung pada bagaimana Anda bereaksi terhadap peluang-peluang tak terduga.
Perhatikan! Kesuksesan Anda tergantung pada bagaimana Anda bereaksi terhadap peluang-peluang tak terduga. Begitu pula yang ditegaskan oleh John D. Krumboltz dan Al S. Levin dalam buku Luck Is No Accident (Keberuntungan Bukanlah Kebetulan). Jadi, untuk menjadi kaya, yang paling dibutuhkan adalah kemampuan untuk bereaksi setepat-tepatnya terhadap peluang-peluang tak terduga.
Terus, apa yang paling kita perlukan supaya kita mampu bereaksi setepat-tepatnya terhadap peluang-peluang tak terduga? Thomas Armstrong menjawab, dalam buku 7 Kinds of Smart, bahwa yang kita butuhkan untuk itu adalah kecerdasan majemuk (multiple intelligences, yang teorinya telah disusun oleh Howard Gardner).
Lantas, adakah hubungan antara kecerdasan majemuk dan shalat? Dengan kata lain, apakah shalat dapat meningkatkan kecerdasan pelakunya, khususnya kecerdasan majemuk?
Mohammad Sholeh (penulis buku Terapi Salat Tahajud) mengemukakan pandangannya di kover buku M. Shodiq Mustika, Pelatihan Salat SMART (Jakarta: Hikmah, 2007): “Penelitian saya terhadap salat Tahajud menyatakan bahwa salat bisa meningkatkan kecerdasan. Dan, buku [Pelatihan Salat SMART] ini menjadi panduan untuk mewujudkannya.”
Adapun jenis kecerdasan yang meningkat melalui Pelatihan Salat SMART itu adalah kecerdasan majemuk! Jadi, secara teoretis, jelaslah bahwa shalat dapat menjadikan pelakunya kaya.
Begitulah analisis secara teoretis. Bagaimana dengan kenyataannya? Benarkah pada kenyataannya, shalat dapat menjadikan pelakunya kaya, bahkan bila telah terpuruk dalam kemiskinan?
Ya! Contoh pada kenyataannya dapat kita simak dalam sebuah kisah nyata: Bisnis Bermodal Salat.



Bismillahirrakhmanirakhim……..
Bisnis bermodal Sholat..?gimana ya…? kalau kita sholat dengan niatan untuk berbisnis atau mengharap jadi kaya, dan bukan karena Allah nantinya apa diterima sholatnya, untuk membedakan keduanya dan mendapatkan keduanya (maksudnya sholat karena Allah dan Sebagai modal bisnis) Bagaiamana…?, karena bayak orang yang benar2 tekun dalam bersholat tetapi mereka bisa dikatakan “kekurangan”
Mmm, great!
Sholat itu hakikatnya adalah do’a bukan?
dan do’a itu esensinya adalah aspek legal formal atas hubungan hamba dengan tuhannya.
Sebenarnya Allah SWT yang Maha Mengabulkan dan Maha Pemurah pasti mencukupi segala kebutuhan kita dengan arif, namun ada dimensi lain dimana aspek legal formal itu perlu dilakukan sebagai bukti penghambaan yang tulus kepada Allah SWT yang Maha Pengasih.
Ingat:
‘Mintalah padaKu, niscaya Aku akan mengabulkannya. QS. Ghāfir : 60′
Bwt pak mushodiq, aku kopi tulisan diatas ke blog-ku ya… tapi aku insert weblognya bapak, koq.
Syukron Jazakalloh.
Met kenal semua…
kalau kita sholat jangan berharap harta , nanti sholatnya malah nggak khusuk..
Sholat adalah bukti kecintaan kita pada Allah ..
persoalan shholat adalah sesuatu yang bisa merubah kita baik dalam perilaku dan sifat yang terpenting bukan sholatnya tapi keihsanan kita terhadap sholat itu sendiri
Ana post blog ini dengan menyebut nama Allah.
WOW… ternyata sholat yg sering kita lakukan benar2 membawa kita pada kemenangan, kejayaan, kekayaan.
Namun akhi… bagaimana caranya jika kita sedang dlm status “Orang Gajian”, dan kebetulan mendapat BOS islam yg jarang sholat (apalagi berjama’ah). Dan dia terus mengintervensi kita untuk menunda2 waktu sholat, agar tidak sholat di masjid (takut buang2 waktu)…
Bagaimana ya.. solusinya..?
Why?Negara Barat Banyak lebih KAYA/maju. Salah 1 sebab mrk Terapkn Nilai2 sholat=On time,disiplin,planning,fokus. Nah nilai2 sholat=Ontime,ready kemasjid,khusyu. Jadi jgn 50% perform,pas saat bisnis?,ga jauh beda 50%. Jadi Terkait pd Mentalitas-Ikhtiar!