Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren?
Pada beberapa tahun terakhir ini, ada gejala pergeseran makna taaruf. Ada kecenderungan, taaruf tidak lagi diartikan menurut makna asli yang terkandung dalam Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13: “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta‘ârafû (supaya kamu saling kenal). …. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Jadi, makna asli istilah taaruf itu adalah proses saling kenal dengan siapa pun selama hayat dikandung badan. Namun sekarang, ada banyak ikhwan yang bilang, “taaruf adalah perkenalan antara seorang ikhwan dan seorang akhwat yang akan menikah.” Bahkan, ada tak sedikit akhwat yang ngomong, “taaruf adalah proses pendekatan selama maksimal tiga bulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang akan menikah.” Aneh, ya? (Bukan hanya aneh, malah bisa jadi bid’ah sesat.)
Gimana nggak aneh? Bayangin aja. Mereka batasi makna taaruf hanya untuk pendekatan ketika akan menikah. Itu pun selama maksimal tiga bulan saja. Mereka dengung-dengungkan istilah taaruf dengan makna yang agak menyimpang dari makna yang terkandung dalam Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13. Padahal, mereka kan rajin membaca Al-Quran. Tekun pula menyimak terjemahnya dan mengkaji isinya.
Lantas, apakah mereka itu asal beda? Asal pake istilah dari bahasa Arab biar kedengaran Islami? Ataukah asal keren?
Gak usahlah kita berprasangka buruk kepada mereka. Mending kita berprasangka baik bahwa sesungguhnya sudah ada kata-kata khas yang digunakan oleh Allah dan/atau Rasul-nya ketika membicarakan perlunya pendekatan antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah. Kita cari yuuuk!
Kalau kata-kata khas tersebut seakar dengan istilah taaruf (seperti pada Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13), maka istilah “taaruf pranikah” lebih elok daripada “taaruf” supaya tersedia ruang yang lapang bagi jenis-jenis taaruf lainnya. Seandainya kata-kata khas tersebut tidak seakar dengan istilah taaruf, kita dapat memanfaatkannya untuk merumuskan istilah lain yang lebih tepat.
Dari ayat-ayat Al-Quran, aku belum menemukan kata-kata khas yang dimaksud itu. What about you?
Dari hadits-hadits Nabi yang shahih, aku telah menemukannya! Alhamdu lillaah…. Mo tau? Gini niy….
Istilah Lain Yang Lebih Tepat
Di kitab Abdul Halim Abu Syuqqah, Tahrîr al-Mar’at (kitab ini menghimpun hadits-hadits shahih mengenai hubungan pria-wanita), aku jumpai enam hadits shahih mengenai perlunya “pendekatan” antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah. (Lihat Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 53-56.)
Di situ, ada satu kata khas yang selalu muncul pada keenam hadits tersebut. Apakah kata khas ini seakar dengan istilah “taaruf” (saling kenal)?
Tidak. Istilah taaruf atau pun kata-kata yang seakar dengannya tidak pernah muncul di situ. Kata khas yang muncul adalah “nazhar”. Kemunculannya berbentuk kata kerja “yanzhuru” (memperhatikan) dan kata perintah “unzhur” (perhatikanlah).
Nah! Dari situ kita jadi ngeh, ternyata kita tidak diperintahkan untuk sekadar “taaruf” (saling kenal) bila hendak segera menikah. Yang disyariatkan dalam keadaan ini adalah “tanazhur” (saling memperhatikan).
Terus, apakah kata “nazhar” itu eksklusif khusus bagi yang hendak segera menikah?
Enggak juga. Contohnya, dalam suatu riwayat yang ngetop dikabarin, Ali r.a. berwasiat: “Unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla.” (Perhatikanlah apa yang dikatakan dan janganlah kau perhatikan siapa yang mengatakan.)
Jadi, buat ngebedain ama jenis-jenis tanazhur lainnya, istilah yang lebih tepat untuk “pendekatan” antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah adalah TANAZHUR PRANIKAH.
Mungkin bagi sebagian orang di antara kita, istilah “tanazhur pranikah” ini kedengarannya kurang keren ketimbang “taaruf” atau pun “taaruf pranikah”. Namun, kita memilih istilah bukan lantaran asal keren, ‘kan?



Keren juga istilah “tanazhur pranikah”!
Bagaimana dengan istilah “pacaran islami”?
emang sekarang ni ta’aruf identik dengan proses Pra Nikah….
sebenarnya qt smua dah tau kalo ta’aruf ngak sesempit itu maknanya tapi….ya memang dah ……….
ane stuju kalo skarang qta mulai membahasakan ta’arufdilingkungan qt, supaya ngak sebatas proses Pra Nikah…
Taaruf keren, kok..sahabat saya baru saja melakukannya tahun lalu. Alhamdulillah, 1 bulan SMS-an, ketemu muka sekali, seminggu kemudian dilamar..waaah, indahnya:)
assalamu alaikum, taaruf memang indah , trus bagaimana dengan anti apa msh single dan punya niat buat ta’aruf juga?
@ ridwan siddik
Wa ‘alaykumus salaam… pesan akhi ini tertuju kepada siapa, ya?
boz…trus soal ta’aruf yang dibilang dikalangan temen2 aktivis yg “lemah imannya” sebagai pacaran Islami gmn boz? manga ada po pacaran Islami? Bahkan temen2 pondok banyak yang guyon2 gitu.Kan, klo pacaran Islami boleh berarti ada zina Islami gitu…..menurut boz yang bijak, gmn tuh? makasih atas masukannya…
Di pondok mana? Bukankah di pondok pesantren diajarkan ilmu mantiq dan ilmu ushul fiqih?
Ditinjau dari ilmu mantiq, pernyataan “klo pacaran Islami boleh berarti ada zina Islami” itu “sesat-pikir”. Letak kekeliruannya, zina itu jelas-jelas dilarang dalam Al-Qur’an, sedangkan pacaran itu tidak ada nash yang secara qath’i melarangnya.
Menurut kaidah ilmu ushul fiqih, segala hubungan antarmanusia itu boleh, kecuali yang dilarang oleh nash secara qath’i. Karena itu, dimungkinkan adanya hasil ijtihad yang berupa konsep-konsep bank islami, partai politik islami, pacaran islami, sepakbola islami, dsb. (Akan tetapi, tidak ada zina islami, judi islami, korupsi islami, dsb.)
Kalau mau tahu ijtihad ulama yang berkenaan dengan pacaran (dalam arti “hubungan percintaan yang berkemungkinan berlanjut ke pernikahan”), lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/02/18/izinkan-aku-berzina/
Hha.. ada2 aja pa ustadz… “korupsi islami”?
Hihi..^_^…
ass bener boz hehehe makasih banyak boz…
wass.
Yah menurut ana sendiri sih, kalau dibilang asal keren gak juga, karena makna aslinya pun saling berkenalan dan saat ingin menikah dengan seorang akhwat pun kita melakukan proses saling berkenalan.
1. Apakah menimbulkan musibah besar saat kita menggunakan kalimat Ta’aruf saat ingin mengenal calon istri kita ??
2. Apakah proses pernikahan yaitu saling mengenal kedua belah pihak tidak bisa diartikan seperti surat al hujurat ayat 13 diatas (apalagi kalau calon istri kita ternyata dari suku berbeda sunda misalnya atau negera berbeda
) ??
yah baik tanazhur maupun ta’aruf selama ditafsirkan secara proporsional menurut ana yah ok ok aja.
orang Indonesia memang suka menyederhanakan atau memberikan makna lain. Masalah kata, itu kan hanya masalah kesepakatan sebuah komunitas, suku, atau bangsa, kalau kata itu dirasa tidak menjadi bermasalah, bahkan sudah memiliki makna tertentu ya gak masalah.
kalau memang orang sudah bersepakat, ta’aruf adalah proses kenal sebelum nikah, ya udah ta’aruf jadi kata itu, sama halnya dalam kata abi dan ummi, yang kalau suami manggil istrinya ummi jelas salah, gitu juga istri manggil suaminya dengan abi juga jelas salah.
Kan indonesia memang suka “menyelewengkan” makna bahasa…sejak dulu kala. Kulliyah yang artinya “a whole”, diterjemahkan menjadi “part of”, karena kuliah kita kan per “subject course”, yang artinya part of
, banyak lah kata-kata di bahasa indonesia yang memang sudah salah kaprah sejak dulu …
tapi pemberitahuan dan penyadaran seperti ini memang penting, biar tidak terjadi “penyimpangan makna” lagi kedepannya
huhahahaha…bagus juga lah istilahnya, tapi saya agak ribet nyebutinnya (maklum, aku gak begitu mahir bahasa arab), jadi lebih enak sama istilah jodohan. tapi apapun namanya, asalkan gak menyimpang ajalah…
apalah artinya sebuah nama???
yg terpenting adalah sesuai tidak dengan syariat.
karena bahasa memang seperti itu,
bahasa indonesia mengalami perubahan makna,
itu suatu kewajaran.
saran saya, kurang perlu lah dipermasalahkan..
maaf kalo gak berkenan.
keren juga tuch komentar2 di atas
pacaran islami???????????????
gimana dengan hubungan jarak jauh????????????
wah….
Ass..
Salam kenal tuk saudara moderator
Saya setuju kalo ta’aruf diniaatkan secara ikhlas tuk tujuan mengenal seseorang secara jujur dan tanpa ada sedikitpun menyembunyikan jati diri kita yg sebenarnya. insyaALLAH dengan didasarkan pd niat yang bersih maka kita akan memperoleh apa yang kt niatkan.
Wass..
assalamualaikum warakhmatullahi wabarakatuh
dari Joe trus ke sini…kayaknya di sini adem ayem…lebih nyaman…(bagi saya) tapi tetep dimana-mana blog hanya pendapat pribadi. Saya tidak mencela…tetapi kebanyakan blog, demi tenar…membuat suatu tulisan yang aneh (menurut saya)…demikian juga di topik ini…(mohon beribu-ribu maaf). Contoh ‘aneh’nya di sini : bagaimana penulis menyimpulkan telah terjadi pergeseran makna ta’aruf? apa ada yang disurvey??? atau hanya penafsirasn belaka…
Jika hanya berdasarkan penafsiran belaka, alangkah baiknya dalam tulisan diberikan kata…berdasarkan penafsiran saya, Pada beberapa tahun ini bla…bla…bla…
dengan demikian blog tidak hanya suatu tulisan asal…namun tulisan yang layak dibaca meski itu hanya pendapat. Saya boleh usul ga…setiap penulis memberikan statement, dahului dengan penelitian atau survey…yaaa meski survey kecil2an tapi itu melatih kita menjadi orang yang faktuil daripada berkhayal.
So, far…nasehat yang disampaikan dalam tulisan ini sangat baik…saya setuju dengan penulis…
terimakasih sudah diperbolehkan nyampah di sini
wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
cool, pakde!
ane mau cari jodoh
tp setelah baca ini blog malah jadi fusying
jadi fengen facaran
fadahal kan fatwanya ga boleh
mamfus ane
begini,,, ketika kita ketemu lawan jenis…. lau dia jadi parnert kita dalam kerjaan atau organisasi, tlus kita kagum dengan kerja dia, dan dia juga seperti itu, dan kami menemukan kecocokan satu sama lain,,,,, dan saya sendiri berhadap dia yang jadi pendamping saYA……. munkin perkenalan kami sudha lama dari 7 tahun yang lalu, kemudian,,, saya memiliki rasa baru sekarang… saya sering memikir kan dia…. cuma tidak sering………………..gimana?
apakh ni termasuk dosa………………………..
Sdr. Irian, cinta pranikah itu tidak dosa.
Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/04/11/12-alasan-mengapa-bercinta-sebelum-menikah/
assalamualaikum
cinta kepada lawan jenis adalah fithrah, denganfitrah inilah kehidupan manusia menjadi indah, namun cinta kepada Allah dan rasulnya adalah cinta yang sebenarnya. karena bila kita terlalu mencintai mahluk, maka mahluk itu belum tentu cinta kepada kita, namun bila kita cinta kepada Allah, Allah akan membalas cinta kita. pasti, pasti, itu pasti,
wassalam
Welgedewelbeh
Maaf Mas Shodig, tak tulis lagi intermeso saya disini, berkaitan denga topik yang pas, dan komentarnya sdri kita Rini nurul badariah.
Intermeso saja…., setelah membaca tanggapan dari sdra kaezzar, yang ini tidak jadi cerai tetapi …. ada seorang teman mulut bercerita (perempuan),salah seorang aktifis dakwah, dia adalah yang tergolong tidak setuju pacaran, dan setuju dengan taaruf. Menikah pun dipilihkan oleh ustadnya, tentu saja dengan cara tukar biodata, dll seperti yang dianjurkan oleh orang2 yang melarang pacaran dengan keras diatas. Dengan perasaan bangga dan bahagia dia menikah dengan ikhwan pilihan itu, merasa yang dijalaninya telah dirasa sangat islami. Tetapi setelah menikah, tak lama kemudian dia harus selalu konsultasi dengan psikiater, karena stress berat untung ga harus kerumah sakit jiwa karena fatal, sampai sekarang masih tergantung obat penenang, tahu apa sebabnya ? Karena terkejut melihat perangai suaminya, perbedaan cara berpikir, budaya dll, yang tidak pernah diketahuinya sebelumnya, dia merasa sangat depresi. So lengkap sudah ya…..,
yang jelas tetaplah hati2
bos, di tulis kesimpulanya lg dong, jangan membingungkan umat deh..
Assalamu’alaikum….
Ikutan ngeramaikan bursa comment mass….logika mantiq dan qoidah ushul fiqh anda ancur mass(afwan),bahasa alqur’an ketika melarang perzinahan itu dengan kata2(janganlah kalian mendekati perzinahan)….mafhum muafaqohnya:mendekatinya saja sudah tidak boleh,apalagi melakukannya…..
kesimpulannya pacaran itu perbuatan yang tetap haram walau apapun istilah yang dipake….
@ lili
menuduh tanpa bukti yang sah = memfitnah = berdosa besar;
bertaubatlah!
Perlu kita ketahui, pacaran itu TIDAK identik dengan mendekati zina. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/
Jadi, pacaran itu tidak haram.
Bung M Shodiq, memang ini adalah gudang tulisan dimana siapapun dapat mengemukakan pendapatnya tanpa ada saringan dari siapapun. Oleh karena itu dipersilakan untuk mengemukakan pendapatnya. Cuma sayang dan sangat sayang anda seperti membeberkan sesuatu yang sangat ganjil dan dangkal. Bagaimana mungkin seorang seperti anda yang saya kira dari pemaparan teks anda yang hampir bisa dikatakan memahami agama, tega menghalalkan pacaran seenaknya dengan atas dasar satu buah hadits.
Sebuah hadits ditafsirkan oleh orang yang faham akan agama yaitu orang yang mengusai setidaknya ilmu bahasa arab, apakah anda sudah?, kemudian memahami ilmu fiqih syar’iyah, kemudian ilmu tafsir alquran baik asbabun nuzul dan khusus untuk hadits adalah asbabul wurudl. Sudahkah anda sampai dengan itu semua. Satu lagi dia seharusnya memiliki guru, yang mana ada sanadnya, bahwa seorang yang tidak memiliki guru kemudian menafsirkan dan menyimpulkan dari apa yang dia baca sendiri baik dari buku2 maupun dari forum yang tanpa guru yang shahih, maka sudah pasti syetan akan mudah menjerumuskan orang itu. Dalam sebuah hadits jelas dikatakan bahwa seorang yang hanya berguru pada buku maka setanlah yang berada didekatnya atau bahkan menjadi gurunya. Untuk ini saya kira anda juga paham..
Anda telah menodai agama ISLAM yang suci ini. Sudah benar bahwasanya Islam memang tidak mengenal pacaran sebelum pernikahan, yang ada adalah setelah pernikahan. Tiada nash tersurat yang menunjukkan akan klausul tersebut. Namun tidakkah anda lihat, bagaimana Allah telah menggariskan dan Alquran itu adalah sumber kebenaran sebelum hadits, terdapat dalam quran surat 17:32
”Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”
Disini sudah sangat jelas sekali bahwasannya Allah melarang kita untuk mendekati perbuatan zina. Definisi zina saya kira anda sudah paham. Jadi segala perbuatan yang mengarah kesana juga dapat dikatakan zina. Termasuk pacaran, terhadap lawan jenis saja kita disuruh untuk menundukkan pandangan, menggoda, merayu, apalagi berdekatan, berkholwat, dan seterusnya tentu akan semakin dilarang..!!! eh…anda kok malah membela ria terhadap pacaran islami dengan dalih melindungi santri yang pacaran secara islami. Saya katakan anda berlebihan, dan bahkan keterlaluan, karena kepiawaian anda justru mengajak manusia yang kebetulan gundah akan hukum pacaran akan terjerumus ke lembah yang lebih dalam lagi. ingat pak Shodiq, sebagaimana Qabil membunuh saudaranya maka dosa perbuatan anak cucunya dan pengikut perbuatan itu akan pula tertimpa kepadanya. Apakah anda juga ingin seperti itu, dimana ketika ada seorang yang kemudian menjadikan opini dan pemaparan anda sebagai dalil untuk berbuat perbuatan itu, dan itu semakin meluas???
Ketahuilah pak Shodiq, coba anda tanya para alim ulama’ yang terpercaya, tentang hal ini, lebih tegas lagi tentang pacaran. Apakah perbuatan itu (pacaran sebelum nikah) diijinkan oleh agama yang haq ini. definisi pacaran juga sudah jelas. Saya yakin bulat2 bahwa itu dilarang. Karena sy tahu baru-baru ini saja, tentang pacaran Islam yang…eh ternyata ada suara lain yang justru pro terhadapnya atas nama ISLAM, sekali lagi atas nama ISLAM.
Dalam artikel yang anda buat dengan judul pacaran itu sunnah yang direstui Nabi, dalam paragraf 8 anda menyatakan itu sebagai sunnah taqriri. Saya semakin heran dengan kefahaman agama anda, dan lagi anda masih menyatakan klausul kemungkinan pacaran. Artinya anda sendiri tidak yakin akan hukum hal pacaran. Disini jelas sekali anda hanya menafsirkan dan menyimpulkan sendiri perihal cerita dalam hadits tersebut..
Jika anda tidak tahu mending tidak usah membeberkan hal2 semacam ini,. karena ketika tidak tahu dengan pasti atau ragu berarti hal tersebut syubhat dan kita dianjurkan untuk menjauhi hal-hal syubhat. ”Tanyakan pada hatimu sendiri. Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa menjadi tenang dan juga membuat hati menjadi tenang. Sedangkan dosa (kejahatan) itu adalah sesuatu yang membuat kacau pada jiwa dan membuat ragu-ragu pada hati, walaupun orang-orang memberi nasehat kepadamu” (HR Ahmad dan Adarimy dalam RiyadlusSalihin 68:4)
semoga hidayah Allah SWT atas anda dan kru anda pak Shodiq.
@ afifz
Disamping komentar Anda menyimpang, Anda salah paham.
Segala yang Anda persoalkan itu pernah diajukan oleh pembaca lain. Kami pun sudah berulang-kali menjawabnya dalam berbagai tulisan di blog kami, terutama yang itu, lengkap dengan berbagai link yang relevan. Apakah Anda belum membaca tulisan-tulisan tersebut selengkapnya? Supaya diskusi kita lebih berbobot, sebaiknya Anda mempersoalkan masalah lain yang belum pernah dibahas atau yang pembahasannya belum tuntas.
dapet juga aku kosa kata baru tentang nikah!!!!!!!!
Taaruf => Saling-Mengenal
Tujuan => Silaturahim
Manfaat => Untuk menyatukan keberagaman
Sepakat!!!?
Asslamualaikum.Wr.Wb
ana mau tanya dunk u/ sp z yg mu jwb… kata ta’aruf sendiri itu kan perkenalan…banyak orang yang menjalankan ta’aruf u/ pranikah terus apakah ta’aruf itu sama dengan pacaran?atau pacaran yang islami??
apakah orang yg menjalankan ta’aruf sama dengan pacaran????
oy,,,febri ank almuslim bkn?
@ Hamba Allah
wa’alaykumussalaam… Situs ini sudah sering membahas pacaran islami. Lihat http://shodiq.com/tag/pacaram-islami/
HATI-HATI TERHADAP SYUBHAT SAUDARAKU….
JANGAN SUKA MENYEBARKAN SYUBHAT SAUDARAKU…
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara yang syubhat yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barang siapa yang menjaga dari yang syubhat, berarti dia telah menjaga din (agama) dan kehormatannya, dan barang siapa yang terjerumus dalam syubhat berarti dia telah terjerumus kepada yang haram. Sebagaimana seorang pengembala yang mengembala di sekitar larangan, maka lambat laun akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki daerah larangan. Adapun daerah larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
afitz almanfaluthi Berkata:
25 Februari 2007 pukul 8:34
boz…trus soal ta’aruf yang dibilang dikalangan temen2 aktivis yg “lemah imannya” sebagai pacaran Islami gmn boz? manga ada po pacaran Islami? Bahkan temen2 pondok banyak yang guyon2 gitu.Kan, klo pacaran Islami boleh berarti ada zina Islami gitu…..menurut boz yang bijak, gmn tuh? makasih atas masukannya…
———————————————-
zina islami = nikah!!!
afitz2…
“Untuk memahami Al-Quran dan Hadist diperlukan Hati untuk meraba kebenaran dan Logika untuk mencerna makna….” –agung–
Taaruf itu sebenarnya apa batasanya mas?
trima kasih
andri
batasan ta’aruf itu ya tidak berbuat maksiyat kepada Allah. sekarang, jika ta’aruf atau “tanazhur” (??) yang dikampanyekan shodiq mustika itu memang bisa menjaga dari masksiyat kepada Allah, ya itu boleh2 saja. tapi siapa sih yang berakal sehat bisa menjamin bahwa taaruf yang diartikan semena-mena oleh shodiq mustika itu bisa menjaga kita dari maksiyat kepada Allah? tapi barangkali memang, alat ukur juga jadi perbedaan. alat ukur maksiyat shodiq mustika dan orang-orang yang iffah (menjaga diri) dari maksiyat itu berbeda, sesuai dengan kadar imannya. jadi, keimanan, ilmu dan nafsu sangat berpengaruh seperti apa yang keluar dari mulut/tulisan kita.. wallahu a’lam
mang batasan taaruf ampe mana c??
da yang tanya, katanya kalo pacaran via sms tu g zina jadi sah – sah aja kan???
taaruf sesama jenis beda dengan lawan jenis???/bedanya ampe mana????
duh pucing….
Kalo mikir kaya gituan bakalan susah hidup ini..
Assalamualaikum.
P. Shodiq, sy ingin menanyakan “Apakah pertunangan itu termasuk hal yang dibolehkan?”
Sy sekarang memiliki seorang “tunangan”, wanita tersebut dikenalkan oleh seseorang kepada sy. Awalnya kita telp. dan SMS-an dan setelah itu kita sering bertemu. Sy tidak ingin mengikuti model “Pacaran pra Nikah”, akhirnya sy katakan kesungguhannya untuk memperisterinya. Dia dan keluarganya tidak menolak dengan syarat tertentu. Salah satu syaratnya dia ingin menikah selepas dia selesai kuliah. Waktu terus berjalan, dan akhirnyapun sy bertunangan dengannya. Tapi sy ragu “Apa dia jodoh terbaik untuk sy?” karena:
1. Dia enggan menggunakan hijab, padahal sy sudah seringkali menasehatinya.
2. Dia meminta jangka waktu seperti sy ceritakan di atas, yang mana sy khawatir tidak dapat melaluinya.
3. Dia meminta mahar yang relatif tinggi.
4. Sy pernah menguji dia tentang loyalitasnya pada keluarga saya, tetapi dia sepertinya kurang menerima keadaan keluarga saya.
Karena itu sy ingin jawaban Bapak, sebagai bagian dari istikharah sy.
@ Adjie
Tanggapanku akan kusampaikan secara pribadi melalui eMail.
Insya’allah.
Berduaan antara pria dan wanita aja gak boleh, memandang wanita lain saja tidak boleh, trus yang didefinisikan sebagai “Pacaran Islami” itu yang seperti apa ? Ck..ck..ck….
Sebenarnya banyak hal besar yang harus kita pikirkan. Misalnya ini, surat 5:44 : Barangsiapa yg tdk berhukum dgn yg diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir. (KUHP, UUD45, PP, …????)
@ Abdullah
Semua yang Anda persoalkan itu sudah pernah saya jelaskan. Mengenai pacaran islami, silakan simak tulisan-tulisan di Tanazhur PraNikah. Mengenai “hal besar” seperti “berhukum dgn yg diturunkan Allah”, silakan simak Tuntunan Islam.
Asslm Mas M Shodiq,
mengenai semua tanggapan antum, ana setuju btw
bisa anda jelaskan apa saja yang menjadi perbedaan antar mazhab yang ada mengenai masalah ini (taaruf)?
Wass…
@ Oqie Murwanto
wa’alaykumussalaam
silakan simak 10 Perbedaan Ta’aruf dan Pacaran Islami
assalamu alaikum wr wb
ana sudah tanazur(melirik/melihat calon)dan juga kenalan (ta’aruf)melalui sms,kedua orng tuanya juga sudah setuju tapi nunggu dia hafidz qur’an dulu kira2 dua tahun lagi,sedangkan ana sudah seneng sama uhtinya..uhtinya pun seneng, baiknya gimana ya ustadz?ana udah pingin nikah,apa saya harus nunggu sampai dia katam ,apa di lamar dulu,atau nikahi?,sedangkan saya ga mau pacaran takut dosa,bagai mana caranya ustadz bilang sama orang tuanya,?dan bilang sama ukhtinya,karena jarak pondoknya dengan saya juga jauh udah lain propinsi,sedangkan dia sudah tidak bisa di hubungi lagi?
wassalamu alaikum
ngawur poll
hari Minggu, tanggal 15 Februari 2009, (satu hari setelah valentine) o-on disuruh Ambu ke pasar, beli daging sapi sekilo.
Sepulangnya dari pasar, o-on bertemu dengan a-an dijalan.
“darimana, bro?” tanya a-an.
“dari pasar nih, tadi nyokap minta di beli-in daging sapi,” jawab o-on sambil menunjukkan bungkusan daging.
“berapa sekilo?” tanya a-an lagi.
“60 rebu perak,” jawab o-on.
“segitu sekilo?” tanya a-an, sambil menunjuk ke bungkusan.
“iya,” jawab o-on.
“60 rebu cuma segitu? tadi malem gw nraktir i-in(pacar a-an), coklat+bakso+minum cuma 20rebu perak,” celetuk a-an.
“trus apa hubungannya?” tanya o-on.
“loe ngeluar-in 60 rebu perak cuma dapet daging segitu, mendingan juga gw, cuma keluar 20 rebu perak, bisa puas semaleman…
hehehe…,”
ta`aruf sdh jelas bukan kata yg berasal dari bahasa indonesia tetapi menjadi kata serapan ke dalam bahasa indonesia tapi itupun tdk digunakan secara luas oleh manusia penutur bahasa indonesia.
bagaimn memanaj hati biar tidak zina.. wlw hanya sebatas ta’aruf. Qta jga dianjurkan saling menjaga hati sebelum nikah.. Syukron
mencintai karena allah itu seperti pa?
Klw mnrtq istlh taaruf mmang jgn sLL d idntikkn dg prknalan antr lk2 dg wnta sblm nkh,tp apakh pnts mlrng org yg mnggnakn istlh taaruf sbgai prss prknalan sblm nkh yg islami,toh arti taaruf sndri mmang slng knal kn?dan klw aq lht d sbgian pmhaman klngn msyrkt mmprlhtkan bhwa taaruf tu prss prknalan
antra lk2 dg wnta yg tdk mlnggar btsn2 syariat (ini mkna yg mngalami pnymptan)d bhs indonesia ada kn pljrn pnympitan mkna?lain dg pcrn yg sLL idntik dg ‘KNPI’,mnmalY mrka prnh brsnthan klt,dan klw aq lht mmang pcran tu sLL brkntasi negatif.cb deh lht d wikipedia tntng taaruf(itu lah pmhamn org indonesia saat ini),tp yg jls si apapn istlhY d dlmY tdk blh da khalwat,ikhtilath,dan prbwtan ‘taqrobuzzina’ yg lain,o y mngkn mksd orng yg mngtakn taaruf max. 3 bln tu adlh bntk ijtihad dia agar taaruf itu jgn lama2 utk mnghndari fitnah,apakah pntas seorang muslim krna prbedaan dlm mnggunakan istlh mnybabkn qta brcrai brai,kpn negara islam akn trbntuk?kpn khilafah islam akn trbntk?klw hal skcil ni mmbwt bgtu mdh mngluarkn vonis bidah/ssat,snggh kt2 yg tdk pnts mncl dr bi2r seorng muslim,ingtlh PR utk umat ini bgtu bnyk,mr song2 negara islam,khilafah islam,kmnangan d prng almalhamah kubro mlwn zionis
@ Farid
Ta’aruf bukanlah sekadar istilah dari bahasa Arab, melainkan istilah dari Al-Qur’an. Bila kita mempersempit maknanya, maka akan berkurang jugalah pengamalan kita terhadap apa yang diperintahkan oleh Al-Qur’an itu.
Pintu ijithad itu terbuka, tetapi bukan untuk membuat bid’ah.
Istilah bid’ah telah dikemukakan oleh Rasulullah SAW. Pengertiannya pun telah dikupas secara mendalam oleh para ulama seperti Ibnu Taimiyyah. Bahaya bid’ah tidak dapat dipandang remeh. Sungguh aneh sekali bila seruan untuk menjauhi bid’ah malah dikatakan “tidak pantas muncul dari bibir seorang muslim”.
kalau seumpama seorang ikhwan yang suka seorang akhwat, kemudian ia taaruf. apa g menimbulkan perbuatan “zina”, seperti zina mata dsb. apa g malah merugikan, oleh karena itu…apakah ada yang namanya pacaran islami, kalau pun ada itu bdiah
masalah bgt si mengenai istilah.
biasa aja deh kayaknya..
namanya juga di Indonesia, bukan negara yang menggunkana bahasa Arab sebagai bahasa sehari2. jadi wajar aja kalo akhirnya yang menjadi generik suatu kata adalah makna yang populer dipergunakan.
masa gitu aja bid’ah? segampang itukah men’cap’ seseorang menjadi ahli bid’ah???
maaf..
Duu…….h bingung ane,,, mang ta’aruf yang sebenernya kaya apa c???… coz yang ane tau ta’aruf itu ya perkenalan antara ikhwan dan akhwat yang udah siap walimah, tapi gak boleh berduaan aja karna akan ada yang ke-3nya,,,, tau kan yang ke-3nya siapa?… jadi harus ada yang menemani di situ, ada baiknya murobbinya lah yang mnemani.. dan yang ane tau kalo udah ta’aruf tu berarti dah masuk masa khitbah… bener ga ya??…… maaf kalo sok tau…
proses yang benar dalam pernikahan
http://menikahsunnah.wordpress.com/2008/06/23/proses-syari-sebuah-pernikahan/
bukan pacaran..
ظُرْ اِلَيْهَا فَاِنَّهُ اَحْرٰى اَنْ يُؤْدِمَ بَيْنَكُمَا
.
“Lihatlah dulu wanita itu, sebab akan lebih menjamin kelanggengan kalian berdua.” An-Nasa’i (2/73), At-Tirmidzi (1/202), Ad-Darimi (2/134), Ibnu Majah (1866), Ath-Thahawi (2/8), Ibnu Al-Jarud di dalam Al-Muntaqa (hal. 313), Ad-Daruquthni (hal.395), Al-Baihaqi (7/84), Imam Ahmad (4/144-245/246) dan Ibnu Asakir (17/44/2),
Ini berarti sebelum menikah dan maminang antara kedua belah pihak tidak saling mengenal apalagi pacaran.
lalu kenapa anda begitu semangat mengkempanyekan Pacaran??
Pasti akan ada dari ummatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khomer (minuman keras), dan alat-alat musik!.” (H.R. Bukhari.)
ilham667 said:
“Ini berarti sebelum menikah dan maminang antara kedua belah pihak tidak saling mengenal apalagi pacaran.”
Bukankah Rasul kita mengenal Khadijah sebelum mereka menikah?
thank’s ya pak Shodiq,, infonya sangat berguna…
wassallam…
aslm…………..
pak shodiq, tau gak dimana lembaga untuk taaruf seseorang?
balas. waslm
sory numpang mampir bntar,,,klo bhas soal taaruf stiap org memiliki pndpt msing2(apalgi ampe skrg)yg penting kita ngrti apa itu taaruf yg sbnrnya???yach emank bnr klo g dijlasin scra detail seseorg bsa mengertikan mknanya jd slh kaprah!!!intinya kmbli kpda niat diri msing2 az,,,stlah saya bca dri comment saudra2 diats saya jd lbh tau ap mkna dri kata taaruf!!!thanks bwt infonya,